Rabu, 16 Mei 2018

Nonton Karnaval Budaya Menyambut Ramadhan 1439 H

Mei 16, 2018 0 Comments

Senin, 14 Mei 2018. Jam tujuh pagi, kendaraan mulai padat merayap. Macet. Sebagian ruas jalan ditutup dan dialihkan ke ruas jalan lainnya. Saat berhenti di lampu bangjo, tiba-tiba serombongan siswa sekolah dasar menyapa saya. Dengan santai saya mengeluarkan ponsel dan mengabadikan keceriaan anak-anak dalam angkot. Yeee…kita difoto, teriak mereka. Sambil memegang hiasan berwarna putih hijau, mereka berpose riang. Ada apa dengan Senin pagi ini? 

Tapi, begitu melihat hiasan yang mereka bawa, baru deh nyadar. Hari itu Semarang punya gawe Karnaval Budaya menyambut Ramadan 1439 H. Ulala…. 


Daripada pecah konsentrasi mata ke jalan dan ke arah keramaian, akhirnya saya langsung nyemplung ke lapangan Simpang Lima. 


Wow….ribuan siswa berkumpul dengan aneka busana daerah dan hiasan warna-warni. Hiruk pikuk suara anak-anak, teriakan mayoret, anak-anak dan para guru yang berswafoto, bahkan seorang ibu yang tengah mewanti-wanti anaknya: jangan lupa senyum, jangan lupa dadah-dadah sama pak wali menjadi bumbu penyedap karnaval. Semakin ke tengah lapangan, serasa berada di belantara bunga manggar dan tentu saja ikon pada pawai menyambut Ramadan 1439 H : Warak Ngendog. 


Nah untuk hewan imajiner ini, maka pada pawai kali ini saya menemukan berbagai bentuk warak ngendog. Ada warak ngendog berbadan gemuk, langsing maupun kerempeng. Ada warak berbahan styrofoam, kardus, bambu, rotan. Warak ngendog pun berbalut kertas warna warni, kertas motif batik dan cat berbagai warna. 

Soal endog (telur), sebagian besar warak tidak dilengkapi endog, tapi beberapa warak punya telur emas, telur perak bahkan ada telur dari bola plastik yang biasa digunakan main bola. Maklum, sebentar lagi perhelatan besar piala dunia bakal digelar. 

Tahun ini karnaval mengambil tema “Dugderan membangun kebersamaan dan Kerukunan Mewujudkan Semarang Hebat” yang diikuti sekitar 12 ribu siswa di lingkungan Kota Semarang. Tema ini mewujud dalam berbagai busana daerah yang ditampilkan, aneka keseniah yang dihadirkan. Beberapa siswa membawa papan bertulis Kita Satu Bangsa, Harmony in Diversity, Peace in Diversity, Kita Bersaudara, di belakangnya pasukan pembawa kentongan. Beberapa kontingen membawa kembang manggar berhias lampion, dan penampilan anak-anak berbusana tokoh agama. Kesenian naga raksasa yang identik dengan perayaan imlek juga ditampilkan salah satu sekolah dasar lengkap dengan tetabuhan. 


Tampilan lain yang mencuri perhatian adalah ide kreatif menggunakan pakaian berbahan bekas bungkus kopi, permen, kertas koran, sedotan, tas kresek warna-warni dan bahan lain yang di daur ulang menjadi busana mewah. Sementara beberapa anak yang tergabung dalam marching band malah menggunakan kaleng bekas, galon air minum, serta galon cat. 


Yang tak kalah menarik adalah adi busana yang digunakan beberapa anak yang mengambil tema flora dan fauna. Ditambah riasan wajah yang menunjang penampilan. Maka jangan ditanya penampilan artis cilik ini makin memesona. 


Tak mau kalah dengan para siswa dengan busana daerah, beberapa guru pun ikut serta mengenakan busana wayang dan tokoh punakawan, Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong lengkap dengan riasan bedak putih dan lipstick merah. Wow… 


Di antara belantara kembang manggar dan warak ngendog, eh ketemu juga usungan yang berbeda. Gajah!. Di belakangnya beberapa guru dan anak mengenakan topi dengan hiasan kepala gajah. Oh, ternyata peserta karnaval dari Gajah Mungkur. Gajah berwarna hitam dengan hiasan kertas berkilat-kilat . Dibalik punggung gajah menempel boneka anak lelaki berbaju hitam. Tak cukup dengan gajah hias, di belakangnya Masha pun menyampaikan salam : Sambut Ramadhan dengan Senyuman. 







Marhaban Ya Ramadan!

Kamis, 19 April 2018

Ngangsu Ilmu di Lokakarya Imsakiyah Ramadhan 1439 H

April 19, 2018 8 Comments

sumber:MoonConnection.com
Rabu 18 April kemarin, saya mengikuti Lokakarya Imsakiyah Ramadhan 1439 H/ 2018 M yang diselenggarakan oleh LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) bekerja sama dengan Program Studi Magister Ilmu Falak Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Walisongo Semarang. Acara ini diadakan di ruang sidang Pasca Sarjana kampus 1 UIN Walisongo. 
Jujur saja saya minder banget duduk di antara mahasiswa S1, S2, dan S3 yang didominasi jurusan Ilmu Falak. Selain mahasiswa hadir pula tamu undangan yang berasal dari dinas terkait seperti Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) lingkup kota Semarang, Pengadilan Agama, perwakilan Kantor Wilayah Kementrian Agama Jawa Tengah, wakil Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Pimpinan Cabang Nahdhatul Ulama, media cetak dan media elektronik. Maka jadilah saya “pupuk bawang” di acara nan ilmiah ini. 
Tapi demi ngangsu kawruh tentang imsakiyah ini, enyah dulu deh rasa mindernya. 

Rektor UIN Walisongo
Acara dimulai pukul 9 pagi. Usai pembukaan dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua LPPM UIN Walisongo, Sholihan. Dalam sambutannya ketua LPPM ini menyatakan bahwa lokakarya yang diselenggarakan menyambut bulan Ramadhan 1439 H, untuk memberi informasi mengenai penentuan awal Ramadhan serta jadwal sholat. 
Rektor UIN Walisongo, Muhibin, dalam sambutannya menyatakan bahwa lokakarya imsakiyah adalah sebuah tradisi yang diselenggarakan oleh UIN Walisongo. Acara ini diselenggarakan rutin setiap tahun dan diharapkan menjadi rujukan bagi masyarakat khususnya Jawa Tengah dalam mengetahui waktu sahur, berbuka serta jadwal sholat. Usai sambutan rektor, acara dilanjutkan dengan penyampaian materi dalam dua sesi. Sesi pertama diisi oleh mahasiswa S2 Ilmu Falak, M. Farid Azmi yang menyampaikan Metode Hisab berdasar Kitab Ad Durrul Aniq. Sementara M. Syaoqi Nahwandi menyampaikan materi Pengaplikasian Algoritma Jean Meeus dalam Hisab Awal Waktu Sholat. 

Pada sesi kedua diisi oleh Slamet Hambali dan Ahmad Izzudin. Slamet Hambali yang merupakan dosen sekaligus praktis Ilmu Falak di kampus UIN Walisongo menjelaskan jadwal imsakiyah untuk Ramadhan 1439 H serta waktu sholat yang dihitung dari berbagai ketinggian. 
Sementara Ahmad Izzudin, Ketua Prodi S2 Ilmu Falak menyampaikan materi Jadwal Imsakiyah yang Berbasis Unity of Science. Sebagai pengantar Ahmad Izzudin menyampaikan bahwa setiap memasuki awal puasa Ramadhan masyarakat seringkali mendapatkan banyak selebaran jadwal imsakiyah dengan berbagai sponsor, namun tidak jelas sumber yang bertanggung jawab. Mengingat jadwal imsakiyah ini penting untuk digunakan sebagai pedoman memulai waktu puasa dan mengakhiri puasa di samping di dalamnya terdapat jadwal shalat lima waktu yang ditambah awal waktu dhuha dan terbit matahari. Dengan demikian maka mendasari imsakiyah yang dapat dipertanggungjawabkan menjadi sebuah kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. 

Dalam paparannya, Izzudin juga menambahkan beberapa poin penting bahwa lokakarya adalah sebagai bahan evaluasi dan kalibrasi : 

  • Lokakarya imsakiyah sebenarnya hanya cukup untuk evaluasi data jadwal shalat yang ada.
  • Mengingatkan kepada masyarakat muslim untuk melakukan kalibrasi terhadap jam dinding yang dipergunakan untuk jadwal imsakiyah. Karena perbedaan kumandang azan sebagai tanda awal masuk waktu shalat yang berbeda-beda di masyarakat tidak seutuhnya karena perbedaan menggunakan sumber jadwal shalatnya.
  • Konten yang dirumuskan dapat mengayomi masyarakat muslim yakni terkait pedoman baku yang harus dipertimbangkan dalam membuat jadwal imsakiyah.
Dan simpulan awal bulan Ramadhan 1439 H menurut kriteria MABIMS adalah Kamis Pahing, 17 Mei 2018. namun kepastiannya tetap menunggu sidang itsbat pemerintah

foto:UIN WALISONGO
 Acara ditutup dengan sesi foto bersama pemateri dan seluruh peserta lokakarya
Alahmdulillah, meski ilmu saya sangat cetek dan terbatas namun lokakarya ini menambah khazanah pengetahuan bagi saya. Semakin saya belajar, semakin saya sadar masih banyak ilmu yang belum dipelajari.

Rabu, 11 April 2018

Sate Jamur, Ketika Jamur Tiram Bersalin Rupa

April 11, 2018 0 Comments


Sekali tempo jamur tiram bersalin rupa. Yang semula putih bersih bersalin menjadi coklat.menggoda. Soal rasa jangan ditanya. Enak, gurih, kenyal sekaligus empuk.

Melalui kegiatan pelatihan pengolahan makanan sehat dan bergizi yang diselenggarakan di balai Kelurahan Purwosari, jamur disulap menjadi menu sehat nan lezat. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan ibu-ibu di wilayah Kelurahan Purwosari, sebagai usaha untuk pemberdayaan perempuan. Selain itu melatih ibu-ibu untuk mengenalkan variasi olahan bahan pangan menjadi menu sehat. Ke depannya bisa juga dijadikan bisnis yang menjanjikan.

Ada tiga bahan pangan yang diolah menjadi menu istimewa. Ketiga bahan utama ini mudah diperoleh di pasar tradisional dengan harga yang relatif terjangkau. Selain itu, bumbu yang dipakai juga mudah didapatkan, enggak neko-neko. Tiga bahan tersebut adalah jamur tiram, bandeng, dan jagung. Jamur tiram bersalin menjadi sate jamur, bandeng dimasak menjadi otak-otak bandeng, sementara jagung manis diolah menjadi puding jagung. Peserta yang mengikuti pelatihan dikelompokkan berdasarkan undian. Dan alhamdulillah, saya kebagian untuk menjajal membuat sate jamur. Sesuatu yang baru bagi saya.


Bahan dan cara pengolahan sederhana. Bahan utamanya yaitu jamur tiram. Untuk bumbunya terdiri atas kacang tanah (digoreng), gula jawa, gula pasir, bawang putih, bawang merah, cabe rawit hijau/ merah, kecap, garam secukupnya dan tentu saja tusuk sate dan arang untuk membakar.

Cara pembuatannya, jamur dicuci bersih lalu ditiriskan. Kukus jamur selama ± 10 menit. Setelah sepuluh menit, angkat lalu tiriskan lagi sembari diangin-anginkan agar kandungan airnya berkurang. Tunggu sampai dingin. Jamur yang telah dingin lalu dipotong memanjang dan ditusuk dengan tusuk sate. Agar jamur tidak terlepas saat dibakar, maka saat saat menyusun irisan jamur pada tusuk sate dengan cara diputar, sehingga hasilnya lebih rapi. Setelah itu sate dikukus kembali selama ± 30 menit lalu angkat dan tiriskan kembali. Tunggu sampai dingin.



Sambil menunggu jamur dingin, siapkan bumbu kacang. Caranya, kacang tanah goreng, cabe dan bawang putih digiling halus lalu direbus dengan air. Tambahkan gula jawa, gula pasir, dan garam. Masak sampai bumbu matang sempurna, atau sekitar 20 menit, lalu dinginkan.

Nah, saatnya mengeksekusi menjadi sate jamur.


Ambil sedikit bumbu kacang, encerkan dengan sedikit air. Celupkan sate lalu bakar sambil dibolak-balik agar tidak gosong. Bakar sampai setengah matang. Dinginkan. Setelah itu, celupkan kembali pada bumbu yang agak kental, tambahkan sedikit kecap lalu bakar kembali sampai matang dan berwarna kuning kecoklatan. Sate jamur tiram siap disajikan bersama sambal kacang atau bisa juga dengan sambal kecap.


Sebenarnya jarum tiram cukup akrab dengan kita. Jamur ini sering dijumpai sudah dalam bentuk kemasan dan dijual dengan harga yang terjangkau. Jamur tiram merupakan jenis jamur yang memiliki ciri berwarna putih, ukurannya cukup lebar, dengan sedikit cekungan di tengahnya. Jamur ini dimanfaatkan sebagai bahan pangan, diolah menjadi jamur crispi (keripik jamur), tumis jamur maupun sebagai bahan sup dan tentu saja sate jamur.

Jamur tiram banyak dibudidayakan pada media tanam serbuk kayu. Banyak sumber menyebutkan manfaat jamur tiram sebagai bahan pangan sumber protein, penurun kadar gula, anti alergi, dan manfaat kesehatan lain. Segudang manfaat jamur tiram didukung dengan inovasi dan kreasi dalam mengolah jamur tiram, menjadikan jamur ini sebagai salah satu menu andalan makanan sehat bergizi dan tentu saja lezat.

Penasaran ingin mencoba mengolah jamur tiram menjadi sate jamur? Mangga....

Selasa, 27 Februari 2018

Menyelaraskan Suasana, Menaikkan Mood

Februari 27, 2018 0 Comments
Angka. Bukan sekedar susunan 0 sampai 9. Lebih dari itu, hampir semua aspek kehidupan berhubungan dengan angka. Demikian juga warna, bukan sekedar hitam dan putih. Jika angka yang kadang njelimet membuat mood saya berkurang, maka bermain warna bisa menyelaraskan mood. Apa sebab? Aktivitas harian saya berhubungan dengan angka. Hitungan matematika adalah salah satunya. Untuk yang satu ini, dituntut kejelian dan ketelatenan agar soal yang sedang dikerjakan menemukan jawaban. 



Penggunaan alat bantu hitung memang diperlukan untuk mengecek kebenaran hitungan. Pada beberapa kesempatan kegiatan belajar mengajar bersama sahabat kecil saya, terkadang jawaban yang saya peroleh berbeda dengan mereka, maka alat bantu hitung adalah rujukan terakhir.

Akivitas lain yang berhubungan dengan angka adalah khazanah pengetahuan baru bagi saya. Belajar menghitung dengan merode ephemeris untuk memperkirakan terjadinya gerhana, waktu sholat, awal dan akhir bulan menurut kalender Komariah. Hitungan ini sepenuhnya menggunakan alat bantu hitung, kalkulator. Sengaja tidak menggunakan bantuan aplikasi, agar kemampuan menghitung bisa terasah. Bayangkan! Hitungan yang saya hadapi bukan sekedar penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian dari kombinasi angka 0 sampai 9. Tetapi hitungan yang melibatkan sinus, cosinus, tangent, cotg. Selain menghapal rumus, juga menghapal istilah yang mengharuskan berkali-kali membuka buku. Interpolasi, fraksi iluminasi, sabak bulan, sabak matahari, asensio rekta dan istilah lain yang masih asing di telinga. 

Nah, aktivitas seperti ini akan terasa monoton, menjemukan apalagi jika tak juga berhasil menemukan jawaban, fyuh bisa uring-uringan. Maka perlu kiat-kiat yang membuat hitungan menjadi sesuatu yang menyenangkan. 

Sumber : Casio
Pernak-pernik Alat Tulis yang Menarik 
Saat duduk di sekolah menengah pertama, seorang guru menganjurkan untuk menggambar kartun, mewarnai, dan menyampuli buku dengan warna dan gambar yang menarik. Buku pekerjaan rumah yang semula putih bergaris hitam pun berangsur berwarna. Gambar kartun kecil di sudut kiri atas lembar buku pun menjadi magnet tersendiri saat belajar. Waktu berlalu, kini pernik alat tulis tak lagi monoton. Cover buku yang menarik, garis-garis berwarna, dan lembaran putih berhias gambar. Bentuk yang menarik ini pun mampu menaikkan mood dan hitungan tak lagi membosankan. 



Tempat Kerja yang Tidak Monoton 
Menghitung memang pekerjaan yang membutuhkan keseriusan. Tetapi bukan berarti tegang. Bisa-bisa emosi yang muncul. Nah, saya biasa bekerja dengan meja lipat pendek. Jika ingin menghitung atau menulis sambil nonton tivi, tinggal menggelar meja di depan tivi. Menghitung sambil melihat hilir mudik orang lewat, tinggal memindah meja ke ruang depan. Kemana pun mood membawa, dituruti saja. Lipat meja, lalu gelar di tempat yang mengasyikkan. Aktivitas nomaden ini bisa mengatasi kejenuhan. 

Camilan-camilan 
Bukan wajib, tapi harus. Haha...Saya menyediakan toples kecil. Isinya bisa bermacam. Kadang permen, kacang, atau kriuk-kriuk lain. Bahkan ubi jalar goreng, tempe mendoan atau tempe gembus juga menemani. Mengapa? Kadang saat sedang asyik menulis atau menghitung kita lupa mengisi perut. Selain makan (jika sudah waktunya lapar), bisa jadi camilan menjadi pendamping yang asyik. Tapi jangan terlalu banyak. Maka sediakan toples atau wadah kecil. 



Stop! Waktunya Istirahat 
Stop! Beri waktu otak dan badan untuk istirahat. Terkadang rasa penasaran karena hitungan salah melulu membuat saya penasaran. Kok enggak ketemu sih jawabannya. Padahal sudah dihitung sesuai rumus, diulang berkali-kali masih salah juga. Nah ini pertanda waktunya istirahat. Dipaksa-paksakan juga tak tetap tak menemukan jawaban. Tutup buku, bangkit lalu mengerjakan aktivitas rumah lain. Berapa lama? Sesuaikan dengan kondisi dan mood. Badan segar, berpikir pun lancar. 

Kiat-kiat sederhana itu memang bisa membuat suasana hati lebih menyenangkan. Mood memang mempengaruhi aktivitas, apalagi saya. Moody, tergantung kondisi dan situasi. Mirip dengan yang disebutkan dalam KnowYourColour. Ungu! Unik dan punya karakter yang berubah-ubah secara drastis. 
Hmm... ngomongin warna dan angka, sepertinya tak bisa jauh-jauh dari Casio. Dan kali ini CASIO My Style menambah koleksi dengan beragam warna. Sebagai Colorful Calculator, pilihan warna bisa disesuaikan dengan keinginan kita. Bagaimanapun warna mempengaruhi psikis.



Menurut sebuah sumber, ungu merupakan warna dingin yang memberikan suasana sejuk. Warna ungu menciptakan perasaan tenang dan aman
Nah, jika kamu penasaran dengan warna warni Casio Colorful Calculator, bisa cek mataharimall.com dan gunakan promo kode CASIOBLOGND91Y85. Pilih warnanya dan bawa pulang. #CasioMyStyle

Minggu, 18 Februari 2018

Mendoan, Oleh-oleh Khas Purwokerto

Februari 18, 2018 5 Comments

Minggu lalu saya dapat oleh-oleh dari Purwokerto. Dilihat dari kemasannya saya menebak pasti gethuk goreng Sukaraja karena terbungkus besek (wadah dari bambu). Tapi setelah dibuka, ulala...ternyata isinya masih terbungkus daun pisang. Di dalam besek juga disediakan sebotol sambal kecap dan tepung serba guna. Ehm... apa ya? Saya membaca lembar petunjuk. Dan... ouch, ternyata si penggoda lidah: Tempe. 


Baru kali ini saya mendapat oleh-oleh tempe yang masih terbungkus daun –belum matang- lengkap dengan tepung untuk menggoreng dan sambal kecap. Biasanya saya membeli tempe mendoan matang di lapak-lapak penjual aneka gorengan, karena membuat tempe mendoan sendiri, rasa dan rupanya tak seenak dan seelok bila dibandingkan dengan membeli. Satu besek berisi 10 bungkus tempe. Setiap bungkus terdiri dari 2 lembar tempe tipis dan lebar, kira-kira seukuran kartu pos.
Sebelum dieksekusi menjadi gorengan lezat, tempe dijejer / iler di meja dalam keadaan tetap terbungkus. Mungkin menunggu proses fermentasi berlangsung optimal. Sesuai dengan petunjuk, tempe baru bisa digoreng keesokan harinya. Jika tidak digoreng pada hari tersebut,tempe yang masih terbungkus daun dimasukkan kulkas dan tempe masih bisa bertahan sampai dua hari ke depan. 



Nah, waktunya menggoreng tempe mendoan. Tepung berbumbu diencerkan dengan air. Sebagai pelengkap dan menambah cita rasa, bisa tambahkan onclang yang diiris tipis. Lalu tempe dimasukkan dalam adonan tepung dan digoreng deep frying dalam minyak panas sreng... cukup setengah matang, angkat lalu tiriskan. Tempe mendoan hangat siap disantap. Dinikmati bersama gigitan cabe menambah kelezatan, dicocol dengan sambal kecap pun lezat.

Karena  tempe yang belum matang masih banyak, maka saya mencoba menggoreng tempe dengan berbagai variasi. Digoreng jadi mendoan, digoreng begitu saja tanpa balutan tepung pun tak kalah lezat. Makin lezat jika dinikmati selagi panas. Kriuknya terasa. Ada juga yang saya goreng dengan balutan tepung encer dan tipis. Rasa dan rupa seperti tempe keripik. Ah, yang namanya tempe memang menggoda lidah. 



Eh tapi, mengapa ya bisa dinamakan Mendoan? Ternyata nama Mendoan berasal dari kata “mendo” yang artinya setengah matang. Makanya proses penggorengannya pun setengah matang. Oleh-oleh ini gampang didapatkan di warung-warung tradisional di wilayah eks karesidenan Banyumas. Praktis, karena kita bisa memberinya dalam kondisi tempe belum matang sempurna, sehingga bisa dijadikan oleh-oleh. Selain itu tambahan sambal kecap dan tepung bumbu juga memudahkan untuk mengeksekusinya menjadi hidangan yang lezat disantap menemani secangkir teh.

Jumat, 02 Februari 2018

Batuk? Ramuan Alami Ini Boleh Dicoba

Februari 02, 2018 2 Comments

Batuk. 

Penyakit ini sepertinya akrab dengan semua orang. Tidak mengenal usia apalagi strata. Sepertinya semua orang pernah mengalaminya. Mau sekedar batuk ehm-ehm atau uhuk-uhuk. Agak menjengkelkan sih sebenarnya, tapi apa mau dikata. Saat virus jalan-jalan mencari mangsa, eh kondisi tubuh tidak dalam keadaan prima ditambah cuaca yang tak menentu. Bisa ditebak dong, virus langsung ngekos tanpa permisi. 

Saya salah satu makhluk yang akrab pula dengan si uhuk, meski tidak sering datang. Sayangnya saya takut ke dokter karena ujung-ujungnya disuruh minum obat. Untuk urusan minum obat,  saya paling malas.

Nah, al kisah suatu saat si uhuk datang menyerang. Baru gejala enteng, saya cuma mengandalkan kerokan. Biasanya kerokan bisa meringankan penderitaan, eh batuk kali ini ternyata kebal dengan minyak angin. Batuk makin menjadi-jadi, kerokan tak mempan mengusirnya. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli obat batuk yang dijual bebas di apotek. Saya membeli obat batuk yang manjur seperti iklannya. Tapi bukannya bablas, si uhuk masih menampakkan kewibawaannya. Tak kuasa melawan, saya membeli obat batuk merek lain. Obat kedua ini pun tak berkutik melawan batuk, meski diminum sesuai dosis. Akhirnya obat ketiga pun dibeli. Hasilnya? Tak berbeda jauh. 

Akhirnya saya putuskan berobat ke dokter. Tapi belum sempat melangkah, ada saudara datang dari desa. Saat asyik mendengarkan obrolan, tiba-tiba si uhuk-uhuk mendemonstrasikan kegagahannya. Ditahan-tahan tak bisa, lolongan batuk berat malah makin keras. Melihat saya kempis-kempis karena batuk *halah bahasa apa ini, Lik Ngatiyem-saudara saya, langsung memberi resep batuk andalannya. Ramuan yang mujarab mengobati batuk yang membandel. Katanya, ramuan ini murah, mudah, manjur. Coba saja, katanya sambil mengacungkan jempol. Mantab! *sssttt, rahasia. 




Ternyata resepnya sangat sederhana : jahe, kunir/kunyit, sereh, asem, kayu manis, gula batu atau gula aren. Caranya pun sangat mudah. Jahe dan kunir dibersihkan lalu diiris-iris, sereh, kayu manis dicuci bersih. Takarannya? Dikira-kira sendiri deh. Jika semua bahan sudah siap, masukkan ke dalam kendil atau panci tambahkan air lalu jerang di atas api. Tunggu sampai mendidih. Jika sudah matang, ramuan siap dinikmati. Jangan lupa saring terlebih dahulu jika ingin menikmatinya dan sebaiknya diminum selagi hangat. Mencium uapnya, sudah terbayang rasanya. Dan ternyata uap yang menguar tak menghianati rasanya. Padu padan manis, asam, hangat dan rasa rempah nikmat dan segar disruput sluuurp. Saya minum tiga kali sehari selama kurang lebih 3-4 hari. Alhamdulillah batuk reda dan pamitan menghilang. Selain sebagai pereda batuk, ramuan ini enak juga untuk wedangan. 




Meskipun sederhana, namun ramuan ini kaya manfaat lho. La wong ada rempah-rempahnya. Ini nih manfaat masing-masing bahan yang digunakan.

Jahe
Rimpang ini berfungsi untuk menghangatkan badan. Selain itu digunakan untuk mengatasi batuk. Dari berbagai sumber diketahui bahwa jahe juga bisa digunakan untuk meredakan pusing, meredakan mual karena aromanya yang kuat, memperkuat daya tahan tubuh dan segudang manfaat lainnya. 

Kunir/ kunyit  
Selain sebagai bahan pelengkap makanan karena memiliki cita rasa dan warna yang khas sehingga digunakan sebagai bumbu dapur, kunyit juga kaya manfaat. Meringankan rasa sakit saat menstruasi, tukak lambung, dan maag. 

Sereh 
Jenis rumput ini juga sering digunakan untuk penyedap rasa. Beberapa sumber menyebutkan, sereh memiliki beragam manfaat obat yang bersifat anti bakteri, anti mikroba dan anti jamur. Selain itu sereh juga diolah untuk diambil minyak atsirinya dan selanjutnya digunakan untuk keperluan aromaterapi dan minyak gosok. 

Kayu Manis 
Rempah yang satu ini digunakan sebagai penyedap setup pisang. Tapi manfaatnya tak sekedar itu. Salah satu sumber menyebutkan, kayu manis adalah jenis rempah yang serba guna. Ada yang memanfaatkan sebagai pengawet alami, untuk pengobatan tradisional bila terkena deman atau influenza bahkan untuk menurunkan kolesterol.

Asam 
Orang menyebutnya sebagai asam jawa. Rasanya masam tapi segar. Tak hanya digunakan sebagai bumbu pada masakan sayur asam dan pempek. Nyatanya asam banyak digunakan untuk obat. Ada yang menggunakannya sebagai obat sariawan, sebagai campuran untuk obat batuk seperti yang saya praktekkan, menyembuhkan luka, mengobati jerawat, bahkan bisa digunakan untuk kecantikan karena membuat kulit cerah. 

Gula Batu 
Sering digunakan sebagai pengganti gula pasir. Gula batu rasa manisnya lembut. Salah satu sumber mengatakan bahwa gula batu menjadi sumber energi yang mampu membuat tubuh menjadi cepat pulih. Nah jika tak menemukan gula batu, maka bisa diganti dengan gula aren. Gula aren juga tak kalah hebat loh manfaatnya karena meningkatkan daya tahan tubuh. Jika daya tahan tubuh prima, tak mudah sakit kan. 



Tertarik untuk mencoba ramuan pereda batuk? Silakan.

Senin, 29 Januari 2018

Retna Ginubah, Menakar Budi Pekerti di Jaman Now

Januari 29, 2018 16 Comments

Dari sekian banyak tumpukan buku lawas milik bapak, saya menemukan buku tipis yang menarik perhatian. Dilihat dari sampulnya, jelas sekali buku itu telah usang seiring usia. Tapi membaca judulnya : Retna Ginubah, timbul rasa penasaran. 

 
Mulanya, saya pikir buku yang kertasnya telah menguning itu adalah buku kumpulan cerita. Namun setelah dicermati, sub judulnya berbunyi : Didikan Budi-Pekerti –dengan huruf d bertitik bawah- mungkin cara membacanya seharusnya dhidhikan. Sekilas saya menyimpulkan bahwa buku ini berisi pendidikan budi pekerti (jaman old). 

Buku Retna Ginubah (didikan budi-pekerti) diterbitkan oleh Dinas Penerbitan Balai Pustaka Djakarta tahun 1959. Maka bisa dibayangkan, betapa kunonya buku istimewa ini. Saat membuka halaman pertama, saya pun harus terbata karena ternyata keseluruhan ditulis dalam bahasa Jawa. Penulisnya adalah S. Siswosudiro seorang guru SGB Negeri III Surakarta. Di halaman awal tertulis Kangge tetimbangan/lelimbangan lampah-lampah ing ngagesang. Karena penguasaan bahasa Jawa saya yang sudah mulai luntur, maka saya terjemahkan secara bebas bahwa buku ini ditulis sebagai bahan acuan atau pertimbangan dalam menjalankan hidup. Buku setebal 71 halaman ditambah satu halaman ralat, dijual dengan harga Rp. 8,80 –delapan koma delapan puluh rupiah.  



Sebagai pendahuluan, sang penulis mengemukakan alasan mengapa menulis buku tersebut. Di antaranya rasa tanggung jawab dan merasa prihatin dengan keadaan bangsa dan negara. Namun yang saya anggap istimewa adalah sebagai tanda bakti kepada nusa dan bangsa. 

Sesuai dengan judulnya, maka buku ini seluruhnya berisi tentang nasehat. Ada 423 nasehat dengan bahasa Jawa yang (sebenarnya) mudah dipahami, karena menggunakan bahasa Jawa ngoko. Di beberapa kalimat ada juga yang mungkin menggunakan bahasa Jawa kuno seperti dalam kalimat : Jatna juwana, lena kena! Di bagian bawah disertai keterangan = jatna (waspada); juwana (slamet); lena (sembarana); kena (kedwarasan). 

Membaca buku Retna Ginubah seperti membayangkan bagaimana bijaksananya orang tua yang memberi nasehat kepada anaknya. Meski buku ini koeno, bukan berarti nasehat yang disampaikan adalah nasehat usang yang ketinggalan jaman. Tapi justru pitutur yang bisa dipakai sampai sekarang. Istilahnya  buku jaman old yang masih relevan untuk jaman now.

Sama halnya saat mendengar nasehat orang tua, maka dalam buku ini dijumpai nasehat berupa larangan. Jangan melakukan ini, karena akan berakibat kurang baik contohnya : Adja grusa grusu, gedhe kapitunane – jangan tergesa-gesa (dalam melakukan pekerjaan) besar kerugiannya. Simak nasehat lainnya : Adja gumampang ngutjapake kesaguhan, jen sakira angel anggone netepi – jangan mudah berjanji jika kita merasa berat untuk menepatinya. Adja demen goroh. Babarane dadi rubeda lan gawe pituna – jangan senang berbohong karena pada akhirnya akan menimbulkan salah paham dan kerugian. 
Ada pula nasehat yang merupakan kalimat yang bersifat retoris, dan memaksa kita untuk jujur dalam menjawab seperti nasehat : Apa bedane nganggur karo ngaso? Sing cetha anggonmu nerangake! – Apa perbedaan antara menganggur dan mengaso (istirahat)? Terangkan dengan jelas. Nah, saat membaca nasehat ini saya langsung menunjuk diri sendiri dan malu-malu mengakuinya. 
Nasehat lainnya seperti kalimat perintah yang halus dalam penyampaiannya, seperti pada kalimat : Ngenthengna tetulung. InsjaAllah rineksa uripmu – bermudah-mudahlah dalam menolong, Insya Allah hidupmu akan selalu dalam perlindungan. Ada pula : Mangan, turu, njambutgawe, adjegna ing wektune. Iku bisa ndajani tumataning djiwa-raga- Makan, tidur dan bekerja sebisa mungkin dilakukan dengan teratur. Keteraturan akan berpengaruh pada kesehatan jiwa dan raga. 



Jika dicermati, semua nasehat yang disampaikan ringan tapi terasa makjleb dan membekas di hati, namun karena ketidakjujuran dan ego yang sangat tinggi maka nasehat-nasehat itu sekedar bacaan tanpa dilaksanakan. Sebenarnya ada rasa malu saat membaca buku ini. Selain harus selalu bertanya tentang arti kalimat-kalimat tersebut, tetapi rasa-rasanya tutur kata dan polah tingkah sehari-hari sudah terasa jauh dari pitutur bagus tersebut. Pepatah Jawa menyebutkan wong Jawa ilang Jawane. 

Bagaimana dengan kalian?