Sabtu, 14 Maret 2020

Manasik Haji KBIHU Baiturrahman Semarang

Maret 14, 2020 0 Comments
Hari merambat siang saat jamaah laki-laki turun dari lantai 2 sembari merapikan 2 lembar kain ihrom yang dikenakannya. Sementara ibu-ibu mematut diri dengan pakaian serba putih. Senyum cerah terukir. Meski terik mulai menyengat, namun tidak menyurutkan langkah untuk memulai kegiatan hari itu. Usai ketua regu membagi tanda pengenal, para calon tamu Allah ini pun berdiri berjajar sesuai regu masing-masing. Pembimbing memberi pengarahan. Sesaat keheningan menyergap kala niat terucap, mengkristal dalam hati. Bergetar bibir melantunkannya : Labbaikallahumma hajjan

Wajah-wajah tertunduk. Mereka sedang belajar menanggalkan segala atribut dunia, tersungkur sebagai hamba yang lemah di hadapan Sang Khaliq Yang Maha Perkasa, Maha Kaya. Seirama dengan ayunan langkah menyambut panggilan Allah, membumbunglah kalimat talbiyah, Labbaikallahumma labbaik, Labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wanni’mata laka walmulka laa syarika laka
Mendengar khutbah wukuf
Siang yang terik terasa sejuk tersiram lantunan dzikir kepada Sang Khaliq.  Talbiyah terus berkumandang mengiringi rombongan meninggalkan tempat miqot menuju Arofah. Di Arofah, jamaah menyimak khutbah wukuf lalu berdiri menunaikan sholat dhuhur dan ashar jama’ qosor. 
Mengumpulkan kerikil
Usai prosesi wukuf, jamaah bergerak menuju Muzdalifah, mabit. Di tempat inilah mereka mencari kerikil. 
Melempar jumrah
Prosesi berlanjut menuju Mina untuk melempar jumroh Ula, Wustha, dan Aqobah, lalu menuju Masjidil Haram guna melaksanakan Thawaf Ifadah, sebanyak 7 putaran. 
Thowaf
Kegiatan dilanjutkan dengan Sai, lari-lari kecil antara bukit Shofa dan Marwah. Penutup seluruh rangkain ibadah yaitu tahalul, menggunting sebagian rambut kepala. 
Sai
Di akhir kegiatan pembimbing memberi pengarahan, lalu menutup dengan doa. Berjuta pinta membumbung, salah satunya terselip doa semoga jamaah calon haji KBIHU Baiturahman dilayakkan mengunjungi Makkah, Madinah, dan Arofah untuk melaksanakan haji dan umroh dan meraih kemabruran. 
Menjelang tengah hari seluruh kegiatan selesai. Lo kok cepet? La iya lah, namanya baru praktik manasik haji. 

Ya, hari itu saya mendapat kesempatan untuk mengintip kegiatan manasik haji Kelompok Bimbingan Haji dan Umroh Baiturrahman Semarang. Manasik kali ini adalah manasik haji gelombang pertama yang diadakan di komplek Islamic Centre Manyaran Semarang. Praktik manasik ini merupakan salah satu kegiatan dari rangkaian bimbingan manasik. Kegiatan lainnya apa ya? 

KBIHU Baiturrahman Selayang Pandang 

Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIHU) Baiturrahman berkantor di kompleks Masjid Raya Baiturrahman tepat di jantung Kota Semarang. Mengantungi SK Kanwil Kemenag Prov. Jateng No 1194 tahun 2015, lembaga ini berikhtiar untuk memberikan bimbingan dan pelayanan calon jamaah haji sejak di tanah air sampai di Harramain. Tak cukup sampai di situ, KBIHU Baiturrahman pun memberikan bimbingan dalam menjaga kelestarian haji mabrur. 
Mengingat haji adalah satu-satunya ibadah yang waktu, tempat, pakaiannya sudah ditentukan serta membutuhkan fisik yang kuat, maka diperlukan persiapan yang sempurna dan dilakukan jauh hari sebelumnya. Untuk itulah KBIHU Baiturrahman menyiapkan pembimbing yang mumpuni serta materi manasik yang lengkap. 
Kegiatan manasik dilaksanakan sebanyak 17 kali pertemuan, diawali dengan senam sehat. Meski diperuntukkan untuk menjaga kebugaran calon tamu Allah, namun banyak juga lo masyarakat yang ikut senam (termasuk saya). Hitung-hitung ikut merasakan aura positif yang disebarkan calon jamaah haji. Siapa tahu, insyaAllah di suatu waktu nanti saya bisa menyempurnakan rukun Islam ke 5. Aamiin. 
Senam sehat calon jamaah haji
Selesai senam, jamaah latihan thawaf dengan mengelilingi lapangan Simpang Lima. Kebetulan hari Ahad adalah jadwal pagi bebas kendaraan bermotor, udara masih terasa sejuk minim asap dan debu. Kelar mengelilingi lapangan Simpang Lima sebanyak 3 bahkan ada yang sampai 5 kali putaran, jamaah menyiapkan diri untuk menerima materi. Apa saja materinya? 
Materi manasik haji
Materi awal adalah kebijakan pemerintah dalam penyelenggaraan ibadah haji, lalu masuk ke materi inti seperti : persiapan mental jamaah haji, seputar haji dan umroh, proses perjalanan haji dan umroh, doa-doa, kesehatan haji, seputar dam. Sebagai seorang tamu, maka materi tak hanya seputar ibadah namun juga diberikan pelajaran seputar safar yaitu mulai akhlak di bus, embarkasi, maktab juga etika saat berada di Makkah dan Madinah. Dan yang tak kalah menarik yaitu pemaparan tentang tempat-tempat bersejarah seputar dua kota suci ini. Melengkapi materi disampaikan juga bab fiqih haji wanita serta tradisi orang Arab. Sebagai paripurna materi tentang makna dan hakekat ibadah haji dan tips meraih predikat haji mabrur. Materi manasik disampaikan sebanyak 15 kali pertemuan, sementara praktik manasik haji diberikan sebanyak dua kali yaitu di Islamic Center Manyaran serta Firdaus Fatimah Zahra Gunung Pati. Tahun ini jamaah mendapat kesempatan praktik manasik umroh bertempat di aula tentu saja dengan miniatur bangunan Ka’bah. 
Praktik manasik umroh
Tak cukup dengan materi dan praktik, KBIHU Baiturrahman juga membantu dalam pengurusan administrasi, mulai dari foto (tahun 2020 M/1441H foto dilengkapi nomor porsi), pengurusan paspor, pelunasan biaya ibadah haji, dan kelengkapan administrasi lain. Termasuk inventarisir barang bawaan dan komunikasi. 

Puas rasanya mendapat kesempatan untuk mengikuti rangkaian manasik yang diadakan setiap Ahad di KBIHU Baiturrahman. Lalu kapan giliran saya menjadi bagian jamaah KBIHU Baiturrahman, ya? InsyaAllah segera. Karena saya yakin, Allah tidak hanya memanggil orang-orang yang mampu namun memanggil orang-orang yang rindu untuk dilayakkan menjadi tamu-tamu Allah. Labbaikallahumma labbaik….

(Foto: Joko Mesdi, Al Ahyani, Edhi Sri S, dokumen pribadi)

Senin, 25 November 2019

Guruku Tersayang, Mbah Di

November 25, 2019 2 Comments
Guruku tersayang, guruku tercinta, tanpamu apa jadinya aku... 
Potongan lagu di atas mengingatkan saya pada sosok istimewa yang ikut berperan mendidik saya selain orang tua dan bapak ibu guru di sekolah. Beliau bernama Mursidi. Saya memanggilnya dengan Mbah Di. Panggilan Mbah Di Kakung untuk sosok pria sepuh dengan senyum menawan, dan Mbah Di putri untuk wanita cantik, istrinya. 
Selepas pensiun dari kepolisian, beliau mengabdikan diri sepenuhnya untuk mendidik masyarakat, khususnya di bidang keagamaan. Keinginannya terwujud dengan berdirinya mushola kecil di halaman rumahnya Mushola yang letaknya di belakang stasiun Poncol itu akhirnya berdiri. Tidak mewah, namun sangat bersahaja. 
Perlahan mushola Mbah Di- demikian kami menyebutnya- mulai ramai dipenuhi jamaah. Selain sholat 5 waktu, mushola diperuntukkan untuk mengaji dan kegiatan remaja masjid. Saya pun menjadi salah satu murid ngaji. Sebenarnya, ayah saya pun mengajar mengaji. Tapi kami harus mengaji di Mbah Di. Ngenger ngaji istilahnya. Karena jika diajar orang tua sendiri, ujung-ujungnya manja. Maka jadilah saya dan saudara-saudara mengaji di mushola Mbah Di selepas maghrib sampai menjelang Isya. 

Cerita mengasyikkan terjalin selama ngenger ngaji. Jika adzan maghrib telah berkumandang, kami berlarian menuju mushola yang hanya berjarak 50 meter dari rumah. Mengempit kain jarit dan taplak meja. Kain jarik digunakan untuk mukena dengan disemat peniti di sana sini. Taplak meja sulaman ibu untuk sajadah. Mukena dan sajadah “beneran” adalah barang mahal saat itu. Hanya orang berada yang bisa membeli mukena putih dan sajadah beludru bergambar Ka’bah. 
Saya paling anti berada di shaf wanita terdepan. Mengapa? Karena saya harus bersanding dengan Mbah Di putri. Artinya sholat harus serius, tidak boleh gojek bercanda. Tapi ada kalanya mendapat kesempatan sholat di shaf belakang, 
Polah tingkah anak-anak pada saat itu muncul juga. Sholat sambil nggremeng mengikuti bacaan imam, atau sholat ala anak-anak, tak ada seriusnya. Kalau sudah begini, hmmm... kira-kira tahu sendiri kan, senjata Mbah Di akan bicara usai sholat nanti. 
Oiya, senjata Mbah Kakung adalah rotan sepanjang kira-kira 1 meter. Jika anak-anak ramai saat sholat, maka sambitan rotan disematkan sebagai tanda cinta. Tak hanya itu, saat mengaji pun tanda cinta sering menghampiri. Jika ndarus teralihkan dengan bercanda dan berakibat kami tak bisa setor bacaan dengan baik, maka tongkat ajaib itu pun akan menyapa. Bayangkan bagaimana rasanya disambit tanda cinta. Sakit! Bukannya jera, kami malah harap-harap rindu. Buktinya, kami tetap bercanda untuk berharap sambitan. 
Kenakalan ala anak-anak makin bervariasi. Terkadang bermain kentongan besar (penanda waktu sholat, sebelum kumandang adzan), ikut menggerak-gerakkan badan saat sholat karena ada kereta lewat dan getarannya sangat terasa saat itu, membaui siwak yang dipakai beliau, berlari-larian di halaman masjid sampai keringatan, atau saling ciprat saat berwudhu. 
Setali tiga uang, Mbah Di putri pun memiliki senjata ampuh saat mengajar mengaji. Jika kami tidak ndarus sehingga bacaan kami sering salah, bambu seukuran jari kelingking dengan panjang kira-kira 30 cm menjadi alat kejut yang mengagetkan. Jika tuding –begitu saya menyebutnya- sudah diketuk-ketukkan ke meja, pertanda bacaan yang kami setor salah. Tak jarang tuding menghampiri jemari alias kena sambit. Bukannya jera, esoknya memang kami ndarus tapi lusa bercanda lagi. Selain alat sambit yang menjadi momok yang dirindukan, Mbah Di ibarat jam weker di bulan Ramadhan. Saat listrik telah terpasang, suasana bulan puasa semakin berkesan tatkala suara Mbah Di mulai terdengar. Suara lantang beliau membangunkan orang-orang untuk sahur, bersiap memasuki waktu imsak serta lekuk suara mengaji menjelang buka puasa. 

Waktu berlalu, tahun berbilang. Mushola kecil itu telah bersalin menjadi masjid yang bagus dengan tembok kokoh. Sebagian orang masih ada yang menyebut dengan mushola Mbah Di, meski namanya adalah Masjid Baitul Muslimin. Sementara si empunya telah berpulang beberapa tahun silam. 
Meski telah berpulang kiranya tidak putus kebaikan yang telah ditebarkannya. Ilmu yang diajarkannya, tempat ibadah sebagai amal jariyahnya serta doa anak, cucu serta murid-muridnya. Sambitan tongkat beliau yang dulu menjadi momok, ternyata baru kami tahu hikmahnya kini. Sambitan itu bukan hukuman, tapi bentuk kasih sayang. Andai saja beliau tidak menyambit, mungkin kami akan menjadi pribadi manja serta terlalu berleha-leha. 

Semoga Allah merahmati guru kami, Mbah Di kakung dan putri. Aamiin

#SelamatHariGuru2019

Rabu, 25 September 2019

Berkarib dengan Buku

September 25, 2019 2 Comments
Ferdin, sahabat kecil saya, siswa kelas 8 sibuk memilih buku cerita yang akan dipinjamnya. Saat itu buku-buku saya tertata di buffet. Setelah beberapa saat, dia tidak menemukan buku bacaan yang dia inginkan. 
“Enggak ada yang tipis, ya?” tanyanya sedikit kecewa. Tak ada buku yang diinginkannya. 

Dua hari berselang, dengan wajah sumringah dia kembali memilih buku. Dipilihnya Totto-chan Gadis Cilik di Jendela. Buku berhalaman 271 itu langsung masuk tas. Pinjam untuk melengkapi tugas sekolah, katanya. Seminggu kemudian buku itu dikembalikan. 
“Sudah dibaca?” antusias saya bertanya.
“Belum,” jawabnya singkat. 

Usut punya usut ternyata buku itu hanya untuk diperlihatkan kepada guru Bahasa Indonesia. Dia memang menyelesaikan tugas membuat ringkasan buku dan bisa menunjukkan buku yang diringkasnya. Sayangnya esensi tugas tersebut yaitu membaca, tidak pernah dilakukan. Ringkasan yang ditulisnya diunduh dari dunia maya. 
Bulan berikutnya dia melakukan hal yang sama. Meminjam buku cerita, lalu kembali mencari ringkasan cerita di dunia maya. Dan hal itu dirasa cukup untuk menuntaskan tugas Bahasa Indonesia. Tugas selesai, mendapat nilai. Itu saja cukup.

Lain lagi cerita Rama. Di antara tumpukan buku yang kini saya letakkan di rak, dia menemukan buku cerita tipis, Legenda Danau Toba. Esoknya buku itu dikembalikan, tugas meringkas isi cerita pun diselesaikan dengan baik, tanpa mengunduh dari jagad maya. Dia pun berinisiatif meminjam buku cerita (tipis) lagi agar bisa menyelesaikan tugas literasi. 

Tidak hanya Ferdin dan Rama. Ternyata minat baca di sekitar tempat tinggal saya sangat memprihatinkan. Beberapa anak yang datang dan meminjam buku untuk tugas literasi, rata-rata meminjam buku dengan jumlah halaman tidak lebih dari 25 halaman dan lebih menyukai buku bergambar, meskipun buku seperti itu lebih tepat untuk anak sekolah dasar. Sementara di kalangan remaja, membaca buku tidak mendapat perhatian. Mereka lebih berminat dengan aneka kejadian yang ada di gawai mereka.

Membudayakan membaca terutama di lingkungan kampung memang bukan pekerjaan mudah. Sebagai bagian dari masyarakat, saya pribadi mencari cara untuk menularkan kegemaran membaca kepada sobat kecil saya khususnya dan masyarakat di sekitar pada umumnya.

Pamer Buku 
Buku yang saya simpan di buffet, akhirnya saya keluarkan dan ditata di rak besar. Konsekuensi kotor dan berdebu tak jadi masalah, karena tamu yang berkunjung atau anak-anak yang datang akhirnya  melirik tumpukan buku, membaca judul, membuka halaman, lalu bertanya tentang isi buku. Sementara majalah anak-anak saya biarkan berserakan, dan anak-anak bisa memilih mana majalah yang akan dibacanya.

Bercerita
Teman saya, Winda dan Aan Wulandari menyedekahkan buku dan majalah. Bagi anak-anak yang lancar membaca, dengan mudahnya memilih dan membaca. Namun bagi anak-anak yang belum bisa membaca, biasanya akan tertarik pada gambar. Khusus anak-anak seperti ini, biasanya saya akan membacakan isi cerita. Tentu saja dengan ekspresi yang meyakinkan agar anak-anak mudah memahami. Di akhir cerita, saya menanyakan kembali isi cerita sesuai dengan potongan gambar. Meski pada akhirnya buku itu dibawa oleh mereka dan tidak dikembalikan. Tapi cara ini bisa jadi sebagai pengenalan anak pada buku.

Promo Buku 
Tidak semua orang mampu membeli buku yang bisa dibilang lumayan mahal. Untuk menarik minat baca, saya mempromosikan buku kepada tetangga yang punya minat baca tinggi, namun harus berhitung dengan kebutuhan rumah tangga. Novel-novel tebal yang tidak banyak diminati anak untuk tugas literasi, nyatanya lahap dibaca oleh para bunda. Saya memfoto beberapa buku, lalu saya tawarkan mana yang akan dipinjam. Sekali pinjam 1 buku, setelah selesai dibaca dan dikembalikan boleh meminjam lagi. Demikian seterusnya. Jika bundanya rajin membaca, maka boleh jadi anaknya pun tertular virus membaca.

Nyangking Buku
Meski terbilang kurang keren, tapi nyangking buku (membawa buku) setiap bepergian nyatanya bermanfaat dan super keren. Setiap bepergian, masukkan satu buku dalam tas. Bisa buku yang belum tuntas dibaca, bisa juga buku yang sudah berulang kali dibaca. Di sela menunggu antrean atau sembari menunggu teman, memanfaatkan waktu dengan membaca buku bisa menjadi pilihan tepat di tengah maraknya aktivitas di dunia maya.
Menukil iklan tempo dulu, jangan tinggalkan rumah tanpa dia, maka jangan tinggalkan rumah tanpa membawa buku.

Salam Literasi

#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga

Senin, 02 September 2019

Nyemprong, Alternatif untuk Sakit Gigi

September 02, 2019 2 Comments
Dalam sebuah lagu bang Meggy Z pernah berdendang, daripada sakit hati lebih baik sakit gigi ini…. Tapi sebenarnya dua-duanya tidak ada yang lebih baik. Sakit gigi yang katanya lebih baik itu nyatanya menyiksa. Tidur terasa cenut-cenut, makan tak nyaman, aktivitas terganggu. Padahal hanya satu gigi yang bermasalah. Sakit pol, engga setengah-setengah. 
Solusinya sebenarnya mudah. Dibawa ke dokter gigi. Ditambal atau cabut sekalian. Tapi masalahnya saya memang takut ke dokter. Ngeri membayangkan gigi saya turun tahta. 
Di sela-sela merayu diri sendiri agar mau ke dokter gigi, eh teman saya, Yani menawarkan untuk mengantar saya terapi Nyemprong. Apa????!!!! 
Yani pun bercerita. Giginya berlubang. Didiamkan, sakitnya makin menjadi. Cekut-cekut katanya. Dia pun mengikuti saran temannya untuk terapi semprong/ nyemprong. Tidak sakit, tak butuh waktu lama, dan biaya terjangkau. Hasilnya? Sejak nyemprong, giginya tak sakit lagi. Akhirnya saya ikuti juga anjuran Yani, menjajal terapi Nyemprong
Piranti Nyemprong
Ternyata nyemprong yang saya bayangkan (menggunakan semprong kaca penutup lampu teplok) beda dengan nyemprong gigi. Piranti yang digunakan cukup sederhana. Batok kelapa yang dilubangi lalu diberi bambu kecil, kreweng (pecahan genting), minyak klentik, batu bata untuk alas kreweng, dan biji terong ngor atau terong susu. Biji terong ngor diperoleh dari daerah Sragen, sementara biji terong susu diambil dari daerah Bandungan. 
Wadah air dan batu bata alas kreweng

Biji Terong Ngor
Mula-mula kreweng dipanaskan di bara arang. Sambil menunggu kreweng panas, Pak parno, sang terapis, menyiapkan wadah berisi air dan sepotong batu bata untuk alas kreweng. Kreweng yang telah panas diletakkan di atas batu bata. Di atas kreweng ditaburi biji terong, lalu ditetesi dengan minyak klentik dan langsung ditutup dengan alat nyemprong. Uap yang dihasilkan inilah yang digunakan untuk pengobatan. Pasien hanya memasukkan alat nyemprong dalam mulut, dengan catatan tidak boleh ditiup ataupun disedot agar tidak tersedak uap atau batuk. 

Terapi Nyemprong/ Tektek
Setelah ditunggu beberapa saat, kreweng diganti dengan kreweng lain yang telah dipanaskan dan perlakuan serupa diulang sampai 5 kali. Nah, saat melepas alat nyemprong untuk mengganti kreweng, tampak kotoran putih mengambang di air bersama dengan biji terong yang hangus. Konon ini adalah ulat gigi, atau kotoran dalam gigi yang berluang tadi. 
Usai nyemprong, saya diminta untuk berkumur dengan air putih dan minum untuk menetralisir suasana mulut. Oleh sang terapis, dianjurkan untuk tidak minum es, makanan manis, dan coklat sekitar 3 hari. Alhamdulillah, cenut-cenut gigi tak terasa lagi. 
Pak Parno pun menyarankan bagi pasien yang ingin berobat sebaiknya sebelum nyemprong, tidak mengonsumsi obat agar hasilnya maksimal dan hasilnya lebih terasa. "Jika pasien mengonsumsi obat, biasanya ulat/kotoran yang keluar hanya 2 atau 3," kata Pak Parno.
Pak Suparno mengambil ulat/ kotoran gigi
Sambil melihat Pak Parno mengambil ulat-ulat yang menempel di batok dan berenang di air, saya bertanya tentang terapi gigi yang sering disebut dengan tektek atau nyemprong
Suparno, yang biasa dipanggil Pak Parno ternyata sudah menekuni terapi nyemprong sejak tahun 2002. Keahlian ini didapat dari orang tuanya yang juga menekuni bidang yang sama sejak 1965. Pak Parno adalah generasi ke tiga dalam urusan nyemprong. Selain mengobati sakit gigi, terapi ini juga bisa digunakan untuk mengurangi bau mulut. 
Pasien yang datang tidak hanya dalam kota tapi luar daerah pun menjajal terapi ini. Tak tanggung-tanggung Pak Parno pun pernah diminta bantuannya oleh beberapa anggota dewan bahkan menteri. 

Jika penasaran dengan terapi nyemprong ini, bisa datang ke kediaman Pak Parno yang beralamat di Terboyo Wetan RT 01/ RW 01, Gang Macan, Genuk Semarang. 

Terapi Nyemprong hanyalah ikhtiar, namun kesembuhan datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Senin, 12 Agustus 2019

Kerinduan Sang Marbot

Agustus 12, 2019 0 Comments
Saya terusik untuk mengintip status beberapa teman. Sejak pemerintah mengumumkan hasil sidang isbat yang memutuskan bahwa awal Dzulhijjah jatuh pada hari Jumat 2 Agustus 2019, sebagian teman-teman saya mengunggah status keutamaan 10 hari awal bulan Dzulhijjah, bulan ke 12 pada penanggalan hijriyah ini. 
Jelang hari Arafah saat tamu-tamu Allah berduyun-duyun menuju padang Arafah untuk melaksanakan wukuf, status bilik percakapan wasap pun berhias foto jamaah haji dengan ihramnya, dan tak ketinggalan status yang berisi keutamaan puasa sunnah Arafah yang disebutkan sebagai penghapus dosa satu tahun sebelumnya dan setahun setelahnya. 
Malamnya takbir berkumandang. Status wasap diramaikan dengan unggahan kemeriahan takbir keliling, unggahan foto Masjidil Haram dengan latar suara kumandang takbir. Sampai saat Ied tiba, wasap pun berhias ucapan Iedul Adha. Ucapan dengan gambar siluet masjid, sampai karikatur kambing ikut menghiasi.  
Tepat tanggal 10 Dzulhijjah, status wasap teman-teman saya isinya beragam. Teman saya di Kudus mengunggah foto kerbau dengan tulisan Alhamdulillah tahun ini kerbau dengan emoticon love, teman lain mengunggah fotonya saat menyembelih hewan kurban. Foto status wasap pun mulai bertambah. Kali ini rata-rata bergambar seragam:s-a-t-e. 
Tapi saya mendapati unggahan status salah seorang teman Barisan Sahabat Masjid. Unggahan foto yang berbeda. 
(foto status Oni RRM-BARSAMA)
Keterangan dalam foto itu membuat saya bergidik, haru, sekaligus geli membaca kalimat yang tertulis. 

Ya Allah… 
Setiap hari aku cium karpet masjid ini, 
sampe kalo udah mulai apek langsung dibersihin. 
Apal aku mah sama wanginya kaki jamaah sini. 
Terima kasih ya Allah atas nikmat penciuman ini… 
Semoga bisa dipakai mencium Ka’bah nanti… 

abidin jdr MARBOTER BARSAMA 
-----------------------
Saya geli, betapa sang marbot masjid begitu hafal dengan bau telapak kaki orang-orang yang bersimpuh, menegakkan sholat. Tentunya tak hanya satu orang. Puluhan bahkan ratusan jejak telapak kaki yang telah bersujud di masjid itu. Tentunya dengan aroma wangi yang beraneka. 
Rasa syukur atas nikmat indra penciuman pun menyertainya karena organ yang memiliki 10-20 juta sel pembau -sel olfaktori- dimampukan Allah untuk mencium aroma telapak kaki para jamaah. Kerinduan, harapan dan impian pun disertakan dalam doa semoga di suatu saat nanti indra penciuman itu dapat mencium Ka’bah. 

Makjleb! 

Saya jadi teringat dengan tayangan televisi tentang orang-orang yang dipanggil Allah untuk berhaji dan umroh dengan cara yang istimewa. Pemulung yang menabung sekian puluh tahun, pedagang bakso yang mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Kesemuanya diniatkan untuk berhaji, dan masih banyak cerita lagi. 
Sementara di tayangan lain sepasang suami istri bersepeda demi mengunjungi Baitullah. Ada pula seorang pemuda yang berjalan kaki berbekal tas ransel “backpakeran” untuk menuntaskan rindu sujud di depan Ka’bah. Kesempatan istimewa juga diperoleh beberapa orang yang mendapat undangan dari Kerajaan Arab Saudi untuk melaksanakan ibadah haji.  
Ada banyak cerita tentang perjuangan untuk sampai ke Baitullah. Ada beragam cara agar harapan itu bisa diwujudkan. Karena Allah tidak memanggil orang-orang yanga mampu, namun memampukan orang-orang yang rindu untuk disampaikan ke Baitullah. 

Kerinduan yang sama juga menghinggapi sang marbot. Kerinduan yang terangkai saat bermunajat. Sebuah kerinduan untuk mencium Hajar Aswad, batu hitam di sudut Ka’bah insyaAllah bisa terwujud. Caranya? Itu urusan Allah dan biarlah Allah yang mewujudkannya. 

InsyaAllah di suatu saat nanti, Allah akan mengundang sang marbot untuk bersujud di Makkah, Madinah, dan Arofah. Aamin.

Rabu, 06 Maret 2019

Paket Lengkap : Gandjel Rel, Gus Mul, Pringsewu

Maret 06, 2019 0 Comments
Ulang tahun Gandjel Rel tahun ini menyediakan menu lengkap dan tentu saja mengenyangkan. Ibarat kata, berimbang antara santapan jasmani dan ruhani. Santapan jasmani tentu urusan perut karena aneka jajan dan santap siang yang sukses menerbitkan liur. Santapan rohaninya semangkuk ilmu dari GusMul, plus hati senang bertemu GRes, plus kesempatan cekrek-cekrek di restoran Pringsewu dan pulang membawa hadiah.

Tanggal 22 Februari 2019, komunitas narablog wanita Kota Semarang, Gandjel Rel memasuki usia menggemaskan, 4 tahun. Ritual perayaan dimulai di minggu-minggu sebelumnya dengan menggelar blog challenge dan video challenge #roadto4thGandjelRel. Sementara puncak perayaan diadakan hari Sabtu, 23 Februari 2019 di restoran Pringsewu kawasan Kota Lama Semarang. 

Bukan rahasia lagi jika sepak terjang GRes (member Gandjel Rel) dalam kurun perjalanan 4 tahun makin gemilang. Beberapa lomba berhasil memunculkan nama GRes sebagai jawara. Sementara di lingkup intern, berbagai ilmu dan resep menulis disebar dan bisa dituai anggota GRes lainnya. Intinya, saling berbagi, saling mengisi. 
Gus Mul dan GRes (foto: Nyi Penengah Dewanti)
Pucuk dicinta ulam tiba. Urusan berbagi ilmu diwujudkan lagi oleh founder Gandjel Rel dengan memboyong Agus Mulyadi redaktur mojok.co. Gus Mul, begitu panggilan akrabnya, berbagi resep tentang Menulis Kreatif di Media Online. Tulisan Gus Mul memang bisa dibaca di agusmulyadi.web.id serta agusmulyadi.com. Tapi meneguk ilmu langsung dari penulis buku Jomblo Hapal Pancasila jadi semakin maknyus. 
Agus Mulyadi
Usai bercerita tentang awal mula sepak terjang sampai menjadi seterkenal sekarang ini, Gus Mul berbagi resep menulis yaitu Menulis Sekitarmu Sebisamu. Bumbunya terdiri dari : Ide tulisan, kegelisahan, pilihan kata atau diksi, ke-khas-an, sudut pandang, dan kutipan. Nah, jika bumbu ini dimasak dengan kemampuan yang selalu terasah, maka sajian tulisan nikmat untuk dibaca. Semuanya butuh waktu dan berproses. 

Di tengah-tengah menikmati racikan resep Gus Mul, bisa-bisanya pikiran dan mata pecah kongsi gara-gara membaca tulisan di kaos yang dikenakannya. Apik. Cara ciamik untuk mengenalkan diri. Begini bunyinya : speak English, drive American, kiss French, party Caribbean, dress Italian, spend Arabic, agus Magelangan

Nah, mumpung acara diadakan di restoran Pringsewu, tak boleh melewatkan ritual cekrek-cekrek.  Pasalnya seluruh sudut restoran yang terletak di Jl. Suari Nomor 10-12 kawasan Kota Lama Semarang sangat fotogenik. 

Bangunan berlantai dua ini adalah gedung bekas kantor raja gula terkenal Oei Tiong Ham. Tiap sudut ruang adalah cerita tentang kejayaan masa itu. Oleh salah seorang pegawai, saya diantar ke ruang brankas Oei Tiong Ham. Di ruangan ini bisa dijumpai brankas besi yang kokoh, meski tak bisa difungsikan. Ruangan lain juga menyajikan narasi yang apik. Masuki saja Jail Break, jika kepingin merasakan sensasi makan di balik jeruji. Nikmati juga sensasi Lorong Waktu, menapaki tangga kayu yang kokoh, atau merasakan semilir angin melalui jendela-jendela kayu besar yang menjadi ciri khas bangunan kuno.
Brankas Oei Tiong Ham

Jail Break

Ruangan-ruangan di restoran ini dinamai dengan nama kawasan di Semarang. Seperti Tawang Room- tempat perayaan ulang tahun Gandjel Rel- yang bersebelahan dengan Poncol Room. Ada juga ruang yang dinamai Bubakan Room. 

Tak hanya difungsikan sebagai tempat makan, Pringsewu juga nyaman digunakan sebagai ruang rapat atau pertemuan. Mushola dan taoilet yang bersih serta toilet khusus bagi kaum difabel juga disediakan. Jika kepingin pulang membawa buah tangan, Pringsewu menyediakan souvenir serta oleh-oleh khas Semarang. 

Restoran Pringsewu Kota Lama adalah cabang ke 21 dan dibuka resmi pada 12 Mei 2018. Selain menyediakan menu pesmol gurame, udang saus padang, dan olahan lainnya, kini Pringsewu juga punya layanan baru yaitu Teraz Oei Tiong Ham. Sesuai dengan namanya, Teraz Oei Tiong Ham menempati beranda dengan sajian Roti Ayam, Roti Keju, Banana Roll, Tahu Walik, dan Avocado Thai. 
Teras Oei Tiong Ham Pringsewu
Tak terbayang lezatnya menikmati kudapan, ditingkahi semburat surya jelang senja di Teras Oei Tiong Ham Pringsewu tentu saja sembari menyesap kenangan. Aih….

Rabu, 20 Februari 2019

Tim Resik Resik Masjid Semarang

Februari 20, 2019 7 Comments
Assalaamu’alaikum, 

Jumat Berkah! 

Hari Jumat adalah jadwal saya mengganti mukena masjid kampung. Tapi Jumat ini beda dari biasanya. Baru saja memasuki gerbang masjid, langkah saya terhenti melihat mobil-mobil berjajar padahal waktu sholat Jumat masih beberapa jam lagi. Tak cukup di situ, deru suara mesin pemotong rumput, mesin cuci, peyedot debu dan langkah kaki penuh semangat mewarnai pagi menjelang siang. 

Saat masuk masjid saya melongo, karena beberapa pemuda menggulung karpet, sebagian lagi menyapu, mengepel, membersihkan lampu utama yang berdebu tebal, dan mengelap kipas angin. Keterjutan bertambah saat melihat lemari tempat mukena kosong. Waduh, dimana engkau mukena? Seperti biasanya, saya membawa mukena bersih untuk ditukar dengan mukena yang kotor. 
Lagi celingak-celinguk mencari mukena yang lenyap dari tempatnya, seorang pemuda mendatangi dan menanyakan keperluan saya. Setelah saya jelaskan, pemuda berkaos hitam pun dengan santun berujar, “Maaf, Bu. Pahala Ibu kami minta. Hari ini mukena dan sajadah masjid, kami yang mencuci.” Dalam hati saya berteriak, “Horeeeee!!!” "Alhamdulillah"

Dari pada penasaran saya akhirnya mengintip kesibukan lain di luar ruang utama dan mendapati beberapa pemuda sedang mencuci pembatas shaf, menjemur mukena dan sajadah, menyikat lantai kamar mandi dan tempat wudhu. Bau wangi menguar. 


Rasa penasaran saya mulai terjawab saat saya membaca kaos yang digunakan semua pemuda : Tim Resik-Resik Masjid. Saya pun menjumpai Bang Oni, sekretaris dari TRRM dan mendapat penjelasan tentang kegiatan Tim Resik-Resik Masjid. 

Resik-Resik Masjid adalah gerakan murni sosial spiritual yang terbentuk pada November 2017. Sebagai gerakan sosial maka kegiatan yang dilaksanakan tidak berorientasi pada laba alias gratis 100% selain itu gerakan ini bersifat independen, non politik, non aliran, non sales produk, lintas ormas dan lintas sosial ekonomi. 

Kegiatan mulia ini tercetus saat muncul keinginan dari masing-masing anggota untuk menjalani praktek non ribawi. Semangat hijrah pun akhirnya mewujud dengan mulai menggeluti usaha yang halal tanpa tersentuh praktek riba, lalu merambah kegiatan sosial lain yakni resik-resik masjid yang diadakan tiap Jumat dan Ahad di seputar Semarang. 

Tak sekedar membersihkan masjid, ternyata Jumat itu TRRM juga ikut berbagi. Usai sholat Jumat, jamaah disilakan untuk mengambil nasi bungkus dan air mineral serta beras. Sementara di hari Ahad dilanjutkan dengan penyerahan mushaf Al Quran dan pemberian santunan untuk saudara-saudara penyandang tuna netra. Seluruh kegiatan berasal dari iuran anggota tim resik-resik dan dari donatur. Donasi berwujud uang atau pun barang yang selanjutnya dikelola untuk operasional pembersihan masjid serta sedekah Jumat. 
(dok. TRRM Semarang)
Layaknya organisasi, TRRM dilengkapi dengan kepengurusan yang lengkap. Ketua, Sekertaris, dan Bendahara serta dibantu oleh beberapa seksi yaitu humas, konsumsi, dokumentasi, peralatan dan bahan, bidang keanggotaan, tim survey, bidang sedekah Jumat yang meliputi nasi bungkus dan beras, seksi penggantian mushaf, seksi bansos (pengobatan gratis), dan bidang da’wah. Masing-masing seksi bertanggung jawab atas amanah yang dipikulnya. 
Namun untuk urusan resik-resik masjid, semua anggota bergerak bahu membahu membersihkan rumah Allah. 

(dok.TRRM Semarang)
Jumat siang itu ruang utama masjid telah rapi dan wangi. Kamar mandi dan tempat wudhu pun telah bersih, harum. Deru suara mesin pemotong rumput, penyedot debu dan mesin cuci berhenti, berganti dengan alunan kalam Ilahi. 
Halaman masjid mulai ramai. Satu dua jamaah mulai berdatangan. Tim resik-resik merapikan seluruh peralatan kebersihan dan sebagian lainnya menyiapkan sedekah beras dan nasi bungkus yang akan dibagi usai sholat nanti. Kegiatan membersihkan masjid purna, panggilan kemenangan pun segera dikumandangkan muadzin. 

Semoga TRRM istiqomah dan kegiatan yang dilakukan dicatat sebagai amal jariyah dan menjadi pemberat timbangan kebaikan di yaumul hisab. 

Pengen masjid di kampungmu menjadi bersih, rapi dan wangi? InsyaAllah Tim Resik-resik Masjid siap mewujudkannya, hubungi Sekretariat Tim RRM Semarang, Jl. Zebra Dalam RT 02/ RW 05 No 22 Pedurungan Kidul Semarang

Wassalamu'alaikum.