Saya dan TTS
hartari
Februari 13, 2021
28 Comments
TTS. Teka Teki Silang.
Iya, si kotak hitam putih yang harus dijawab mendatar dan menurun.
Meski tidak terpaut gen, tapi hobi mengisi teka-teki diturunkan dari bapak ke saya, anaknya. Bapak hobi banget mengisi si kotak-kotak. Ada kepuasan saat seluruh pertanyaan terjawab.
Saat pertama kali mengenal kuis satu ini (jaman SD), TTS dikenal juga dengan nama asah otak. Bapak membeli majalah atau lebih tepatnya buku TTS. Dalam satu buku kurang lebih ada 20 teka teki dengan beragam bentuk. Bentuk umum, kotak-kotak hitam putih mendatar dan menurun. Ada pula kotak putih dengan jawaban mendatar semua, lalu di kolom yang diberi garis tebal akan tersusun kata-kata. Ada pula teka-teki yang tidak menyediakan pertanyaan, tapi disediakan pilihan kata yang dimasukkan dalam kolom dan baris kosong.
Tak hanya persegi, susunan kotak hitam putih membentuk bangun persegi panjang, piramida, ada pula belah ketupat.
Menakhlukkan beberapa pertanyaan pun menjadi keasyikan tersendiri. Butuh beberapa kamus. Kamus bahasa Inggris, Jepang, Belanda, Jerman, Arab, Cina, dan lainnya. Bahkan terselip pula pertanyaan berbahasa Spayol dan Italia (nah dua kamus ini nih yang susah dicari di jaman itu).
Buku-buku pintar pun menjadi menu tambahan. Buku sakti semacam RPUL, Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (masih ingat kan?) yang memuat bermacam informasi, dari nama ibukota, gubernur, lapangan terbang, danau, dan seabreg info lain.
Tambahan pengetahuan masih didapat dari majalah/koran yang menyediakan kolom khusus (kumpulan kata bantu) yang memuat kata-kata yang sering ditanyakan dalam teka teki.
Tingkat kesukaran TTS berbeda. Istilahnya, ada level-levelnya pula. Ada yang enteng, remeh temeh sampai pertanyaan yang sulit berbelit, sukar berakar.
Namun, beda dulu beda pula sekarang. Saat ini buku TTS masih ada, namun tidak menyediakan hadiah. TTS benar-benar untuk mengasah otak, iseng-iseng mengisi waktu. RPUL dan buku pintar lainnya pun tersingkirkan oleh gawai pintar. Hanya dengan mengetik pertanyaan jawaban langsung tersedia dalam hitungan detik. Kamus-kamus harus menelan ludah karena tak lagi diperlukan. Perannya tergantikan dengan mesin penerjemah. Tidak hanya bahasa Inggris, nyaris seluruh bahasa di dunia ada.
Sayangnya, kemudahan teknologi ini tidak sejalan seirama dengan keberadaan teka teki silang (berhadiah) di media cetak. Saat ini hanya beberapa media cetak yang menyediakan ruang untuk asah otak. Alasan inilah yang membuat saya sedikit berpaling dari TTS. Ditambah lagi beberapa koran mengurangi oplah. Saya sering kehabisan koran yang khusus saya beli hanya untuk menyambangi sang kotak hitam putih.
Di masa pandemi, saya rindu mengisi TTS. Sedikit rehat dari hiruk pikuk berita seputar virus yang melanda seluruh dunia.
Pucuk dicinta ulam tiba. Pas rindu, pas lapak kaki lima masih menyisakan koran. Rindu pun langsung dilampiaskan mengisi seluruh kotak tanpa menyisakan satu pertanyaanpun. Mengandalkan memori otak dengan menyisir pertanyaan yang mudah dulu, lalu serahkan pertanyaan yang belum bisa saya jawab pada gawai pintar.
Rampung pertanyaan, langsung menuliskan jawaban, lengkapi dengan kupon, masukkan amplop, kirim via pos. Dan….olala…jadi salah satu pemenang. Langsung sombong senang dong.
Sebenarnya bukan sekedar pengobat rindu. TTS benar-benar mengasah otak, menghangatkan memori, memancing ingatan. Saya dipaksa atau terpaksa atau akhirnya dengan sukarela membuka kamus Bahasa Indonesia (meski online) dan ber o panjang, ternyata khasanah bahasa nusantara begitu luas. Mengetikkan persamaan kata, membuka mesin menerjemah bahasa manca, mencari jawaban pada mesin pencari menuntaskan rasa penasaran. Dan jika menang, itu bonus.
Menyenangkan bukan?
Tulisan ini dibuat untuk melengkapi tugas kelas blog Ruang Aksara.



























