Minggu, 20 Januari 2019

Satu Jam Bareng Haji Boim Lebon

Januari 20, 2019 2 Comments
Ini adalah kali kedua saya bertemu Bang Boim atau Boim Lebon atau Haji Boim. Selanjutnya saya menyebut beliau dengan Haji Boim, biar berkah ketularan bisa menunaikan haji. Amin.
Pertemuan pertama terjadi 25 Mei 2013 saat Haji Boim berbagi ilmu di komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis Semarang. Pertemuan di siang yang panas menjadi segar dengan humor-humor Haji Boim. 
Nah, pertemuan kedua pada Ahad 20 Januari 2019. Bertempat di salah satu teras gedung di area Taman Budaya Raden Saleh Semarang, Forum Lingkar Pena Semarang menghadirkan Haji Boim yang didapuk menjadi pembicara pada pertemuan rutin dwi mingguan. Kali ini Haji Boim tidak datang sendirian. Mbak Ade Patalianawati, istri tercinta ikut mendampingi. Tak perlu berlama-lama, Haji Boim langsung bercerita awal keterlibatan beliau di Forum Lingkar Pena disambung cerita saat terjun ke dunia tulis menulis. 
Kelas Menulis FLP feat Boim Lebon
Haji Boim mengawali dunia literasi saat duduk di bangku sekolah. Umumnya anak muda, Haji Boim pun ingin “dipandang” dan dikenal orang lain. Setelah mencoba beberapa kegiatan, akhirnya Haji Boim mengikuti ekskul drama kelas menulis. Beberapa kali naskah drama yang ditulisnya menjadi juara. Beliau merasa telah menemukan dunianya, yaitu menulis. “Saya suka dan saya bisa,” jelas Haji Boim. 

Saat bertemu Hilman “Lupus” Hariwijaya, pemilik nama asli Sudiyanto pun berganti nama. Konon saat itu penampilannya ‘tengil’ dan cocok banget dengan sosok ciptaan Hilman, Boim. Sementara nama Lebon diambil dari salah satu personel band Duran Duran, Simon Lebon. Di serial Lupus, Boim Lebon dikenal sebagai play boy cap duren tiga. Nama duren tiga ini diambil dari gambar korek api jaman itu, tahu kan? Tak cukup di situ, Hilman Lupus akhirnya mengajak Haji Boim membuat buku Lupus kecil yang juga booming. 

Penulis puluhan buku ini pernah bergabung di Penulis Gramedia, menjadi script writer di beberapa stasiun televisi swasta, dan saat ini berkantor di RCTI sebagai produser dan head of creative. 

Bukan Haji Boim jika tak membuat kami tertawa dengan candanya. Di sela-sela sharing ilmu, Haji Boim menyelipkan humor segar. Kali ini tentang wudhu. Sebelum sholat, Haji Boim berwudhu. Wudhu yang pertama disusul dengan wudhu kedua. Buat cadangan katanya. Lo kok? Iya dong, kalau nanti saya kentut tak perlu wudhu lagi. Masih punya wudhu cadangan. Haha….ada-ada saja nih Haji Boim. 

Usai menerangkan karier menulisnya, sesi tanya jawab pun dibanjiri pertanyaan dari peserta pertemuan. Dari pertanyaan tentang nama Boim yang hoki banget, cara mempertahankan nuansa jiwa muda dalam bukunya, tentang penulisan buku anak, malah salah satu peserta menanyakan mengapa buku dan namanya tak juga terkenal. 
(dok : FLP Semarang)
Pada intinya menulis adalah sebuah proses yang harus dijalani sampai menemukan “dunia yang saya bisa dan saya suka”. Karena menulis itu butuh proses, maka perlu ketekunan dan berusaha menikmati setiap proses. Sedangkan ide bisa didapat dari hasil ngobrol serta silaturahmi yang selalu dilakukan oleh Haji Boim di setiap kunjungannya ke FLP daerah. Tulisan-tulisan segar dan enak dinikmati kawula muda adalah buah dari silaturahmi dan bermitra dengan anak muda yang menjadi sahabat Haji Boim. 

Satu jam rasanya tak cukup untuk memetik ilmu dari pria hitam manis kelahiran 17 Juli. Sayang, waktu tak memungkinkan. Usai berfoto dan tanda tangan buku, Haji Boim dan istri harus pamit. 
Jika dulu Boim dikenal sebagai play boy cap duren tiga, kini Haji Boim adalah seorang Pray Boy. Begitu kan, Haji Boim?

Rabu, 16 Januari 2019

S e t i p

Januari 16, 2019 8 Comments
Selesai. Bu Enjel tersenyum puas.
Peta pikiran seukuran kertas karton selesai dibuat, lengkap dengan warna warni spidol agar lebih menarik. Pasti anak-anak akan antusias mendengarkan. Jika anak-anak antusias, proses belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan. 

“Siapa yang tahu plastik?” Bu guru Enjel memancing perhatian anak-anak agar mau mendengarkan pelajaran kepedulian lingkungan di jam pelajaran terakhir. 
Bak ikan mencium umpan, anak-anak terpancing pertanyaan Bu Enjel. 

“Saya tahu. Saya tahu. Saya tahu,” anak-anak bersahut-sahutan menjawab. Semua mengacung, semua tahu. 

“Siapa tahu benda-benda yang terbuat dari plastik?” Lagi-lagi anak-anak mengacung dan berteriak bak paduan suara, “tahuuuu!”

“Coba tuliskan contoh benda-benda yang terbuat dari plastik.” 

Anak-anak berebut maju. Tumben. Baru kali ini kelas menjadi hidup. Maka papan tulis putih di depan kelas penuh dengan tulisan. Ciduk plastik, ember plastik, sisir plastik, gembor plastik, kursi plastik, semua benda ditambah kata plastik di belakangnya. Semua jawaban betul. 

“Siapa yang belum maju?” tanya Bu Enjel. 

“Saya boleh maju dua kali?” tanya Setip, sang murid pendiam. 

Bu Enjel menyerahkan spidol kepada Setip. Tumben, biasanya murid satu ini kesukaran menerima pelajaran, tapi kali ini tidak. Ditulisnya : plastik wadah es teh dan sedotan plastik. 

“Cerdas kamu, Setip,” puji Bu Enjel. Rona wajah Setip mendadak ceria. 
Anak-anak kembali ke bangku masing-masing dan menunggu pertanyaan selanjutnya. 

Bu Enjel membuka peta pikiran yang semalam disiapkan, tentang makhluk plastik. Anak-anak membaca judul peta pikiran. Mereka membayangkan sesosok makhluk yang seluruh tubuhnya dari plastik. Makhluk plastik itu bertemu musuh, terjadi perkelahian, lalu makhluk plastik menang. 
Imajinasi mereka bubar ketika Bu Enjel justru menerangkan plastik sebagai penamaan polimer, molekul sintetis rantai panjang berulang. Plastik adalah bahan bersifat kuat, keras, dan tahan panas hingga bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan rumah tangga. Anak-anak bosan. 
Penjelasan ilmiah yang ditulis Bu Enjel mengutip dari koran ibu kota itu tak satu pun dimengerti anak-anak. Semakin bersemangat Bu Enjel menerangkan, suaranya tertelan riuh anak-anak yang bersenda gurau. Kecuali Setip yang tetap diam mendengarkan. 

“Jadi, plastik wadah es teh dan sedotan plastik tidak bisa hancur, Bu?” tanya Setip. 

"Plastik diperkirakan baru dapat terurai 500 sampai 1000 tahun,” jelas Bu Enjel. 

Bu Enjel segera mengeluarkan komputer jinjing dan menghubungkan ke proyektor. Anak-anak kembali tenang, lalu riuh bertanya tentang foto-foto yang ditampilkan di layar besar. 

“Ini akibat banyaknya sampah di laut, terutama plastik.” 

“Itu kuda laut membawa cotton bud?” tanya Jek. 

“Dia berpegangan pada cotton bud, agar tidak terbawa arus. Mungkin dia mengira cotton bud tersebut adalah tumbuhan air.” 

Penjelasan Bu Enjel diikuti suara o panjang dari anak-anak. 

“Nah, mulai sekarang jangan buang sampah sembarangan, apalagi ke sungai karena akan terbawa sampai ke laut. Jika ikut ibu belanja ke pasar, bawa tas kain dari rumah. Bawa tempat minum sendiri, tidak usah diwadahi plastik,” Bu Enjel menjelaskan sambil menujuk video sampah plastik mengambang di perairan. Foto paus dan kura-kura yang mati setelah menelan sampah plastik pun sangat menarik perhatian siswa-siswanya. Kelas hening.

“Teng! Teng! Teng!” Bel berbunyi, anak-anak bersiap untuk pulang.
 * 

“Bu Enjel!” teriak Setip. Bu Enjel menoleh, dilihatnya Setip berlari pulang ke rumah tak jauh dari sekolah. 

“Berapa, Pak?” Bu Enjel membayar 3 plastik es degan lalu beralih membeli sebungkus buah-buahan dari pedagang gilo-gilo yang mangkal di depan sekolah. 

“Bu Enjel!” Setip menghampiri gurunya. 

“Ada apa, Setip?” 

Terengah-engah diserahkannya tumbler dan piring beling milik ibunya,“jangan diwadahi plastik, Bu. Pakai ini saja.”  

“Bukankah Ibu tadi menerangkan tentang bahaya makhluk plastik?” imbuhnya

Bu Enjel tertegun, mengangguk-angguk, mengangkat dua jempol. 
Setip membusungkan badan. Air mukanya tampak gembira. Dia baru saja menyelamatkan gurunya dari serangan makhluk plastik. Setip tersenyum, senyum penuh kemenangan. 
***


Senin, 07 Januari 2019

Dolan Menyusuri Kawasan Kali Semarang

Januari 07, 2019 8 Comments
Sekali tempo menyusuri kawasan sekitar Kali Semarang. Di kawasan ini masih bisa dijumpai bangunan-bangunan kuno yang sayang untuk dilewatkan. Umumnya bangunan tua, maka ada yang terawat dan masih bisa difungsikan, ada pula yang rusak, bersalin rupa menjadi bangunan modern,atau bahkan hanya menyisakan cerita. 
Menara Masjid Layur (Masjid Menara)
Hari masih pagi, tatkala saya mampir ke Masjid Layur atau Masjid Menara. Masjid tua di Kota Semarang ini berlokasi di Jalan Layur No 33. Sebutan Masjid Menara merujuk pada bangunan menara tinggi di area depan masjid. Masjid Layur masuk dalam Bangunan Cagar Budaya No 35 melalui keputusan Walikota Nomor 646/50/Tahun 1992 Tanggal 4 Februari 1992. 
Masjid Layur/ Masjid Menara
Bangunan masjid tidak terlalu luas. Tampak luar maupun bagian dalam masjid didominasi warna hijau. Bagian atas masjid tidak berbentuk kubah, namun tajuk tingkat tiga dengan puncak berbentuk limas segi empat. Ruang sholat sebagai ruang utama tidak terlalu besar. Empat pilar kokoh menopang atap masjid. Jendela-jendela besar menjadi ciri khas bangunan kuno sebagai ventilasi alami. Di luar ruangan utama, ditempatkan bangku-bangku kecil untuk kegiatan mengaji. Sampai saat ini Masjid Layur masih difungsikan sebagai tempat ibadah dan kegiatan lain. 
Ruangan Masjid
Jalan-jalan saya berlanjut ke bangunan di sebelahnya. Dilihat dari bangunannya, sepertinya tidak difungsikan lagi. Begitu pula dengan bangunan di depannya. Namun demikian sisa keelokan bangunan ini masih bisa dinikmati. Beberapa meter dari bangunan masjid, saya menemukan lagi bangunan lawas yang sepertinya masih difungsikan sebagai hunian. Rumah berlantai dua bercat kuning ini masih menampakkan kewibawaannya meski termakan usia. Kayu sebagai bahan utama bangunan masih nampak kokoh. 
Bangunan kuno di sekitar Masjid Layur
Sampai di ujung Jalan Layur, saya disuguhi bangunan kuno yang pesonanya masih mencuri perhatian. Sayangnya bangunan dua lantai yang masih difungsikan ini kurang terawat. Tanaman liar sedikit merusak pemandangan. 
Bangunan kuno di ujung Jalan Layur
Memasuki jalanan kampung di depan Jalan Layur saya mendapati bangunan kuno yang sedang dibongkar. Sayang rasanya jika bangunan-bangunan lawas ini harus berganti menjadi bangunan anyar. Mengingat kayu sebagai komponen utama masih kokoh dan tentu saja nampak unik dan antik. Pemugaran rumah yang saya temui di Kampung Baru ini mengingatkan pada bangunan lawas yang pernah saya abadikan beberapa waktu lalu. Bangunan berlantai dua ini harus takhluk oleh rob dan banjir yang dulu sering menyambangi kawasan ini. Lantai bawah terendam air sepanjang hari sehingga menyisakan lantai kedua sebagai hunian. Meski demikian, kayu-kayu peyangganya masih kuat. 
Rumah dalam tahap pembongkaran (kanan bawah);
Salah satu rumah kuno di Kampung Baru yang telah dibongkar (atas dan kiri bawah)
Usai menikmati bangunan kuno seputar Layur dan Kakap (di sini saya menjumpai bangunan NV Perusahaan Mesin dan Pengetjoran Logam Sadono) serta blusukan ke kampung-kampung, saya mampir ke penjual Jamu Jun. 
Jamu Jun merupakan minuman tradisonal khas Semarang. Jun adalah wadah air yang terbuat dari tanah. Jamu jun teksturnya sedikit kental hingga hampir menyerupai bubur. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuatnya terdiri campuran tepung ketan, gula jawa, gula pasir, kayu manis, jahe, merica, akar alang-alang, daun jeruk, santan dan rempah-rempah lain. Sebagai pelengkap ditambahkan enten-enten dari kelapa dan gula jawa, bubuk merica, serta tepung ketan sangrai. Rasanya manis legit. Efek ramuan bermacam rempah ini menghangatkan badan. 
Jamu Jun lengkap dengan bubuk merica, tepung ketan sangrai,dan enten-enten
Dahulu jamu jun dijajakan keliling kampung. Jun, canting khas berbahan bambu dan mangkuk kecil, sendok bebek atau terkadang sudu daun pisang diwadahi dunak, lalu digendong oleh sang penjual-wanita usia senja, berkain kebaya dan caping lebar. Sementara bahu menggendong, tangan kanannya menjinjing ember kecil berisi air untuk mencuci mangkok kotor. 
Jamu Jun
Ah, ternyata narasi tak cukup untuk menggambarkan sudut lain Kota Semarang. Bagaimana? Tertarik menyusuri kawasan sekitar Kali Semarang? Yuk, dolan ke Semarang!

Sabtu, 22 Desember 2018

Kala Aman dan Tertib Berkendara Menjadi Budaya Baru di Kampung Berseri Astra

Desember 22, 2018 10 Comments
Memasuki salah salah gerbang Kampung Safety Honda Kelurahan Pandean Lamper, saya didera rasa penasaran. Sekilas memang tidak ada yang berbeda dengan kampung-kampung lainnya. Namun saat berkeliling kampung, saya mendapati beberapa rambu peringatan layaknya di jalan raya. 
Rambu-rambu di 45 titik Kampung Safety Honda (dok.pribadi)
Di antaranya peringatan berkendara di kampung dengan kecepatan maksimal 20 km/jam, pengendara wajib punya SIM dan mampu mengemudi dengan baik, peringatan untuk konsentrasi berkendara tanpa telepon genggam, dan lainnya. 
Saya memutuskan untuk mendatangi kantor kelurahan. Persis di depan kantor kelurahan Gapura bertulis Selamat Datang Kampung Safety Honda Pandean Lamper Kampung Berseri Astra makin menegaskan bahwa tempat ini menjadi pelopor budaya aman berkendara. 
Gapura Kelurahan Pandean Lamper (dok. pribadi)
Rasa penasaran membawa saya menjumpai sang penggagas. 
Adalah Lukman Muhajir, SH., sosok dibalik Kampung Keselamatan Berkendara. Kecintaan pada lalu lintas dipupuk sejak aktif kegiatan ekstra kurikuler PKS (Patroli Keamanan Sekolah) di bangku sekolah. Resah mendera saat melihat angka kecelakaan di daerah sekitarnya meningkat. 
Usai mengikuti Seminar Safety Riding dan sosialisasi Undang-Undang Nomor 22/2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan di USM tahun 2010, maka Muhajir-begitu sapaan akrabnya- akhirnya mengawali gagasan untuk mengaplikasikan safety riding dalam dalam bentuk kampung. 
Gayung bersambut tatkala konsep laboratorium pembelajaran moral dengan mengedukasi masyarakat terkait tertib lalu lintas sejalan dengan Astra, menjalin kerjasama mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas, dan produktif. Kerjasama ini membuahkan sebuah Kampung Berseri Astra dengan tema Indonesia Ayo Aman Berlalu Lintas. 
Lukman Muhajir (dok. pribadi)
Muhajir yang berprofesi sebagai pengacara ini pun menjelaskan 5 Tahapan Program Aman Kampung Safety Honda yang meliputi : 1. Program warga aman 2. Program kampung aman 3. Program motor aman 4. Program warga peduli 5. Program bina keselamatan 
Struktur organisasi dibentuk. Sebagai penanggung jawab I Lurah Pandean Lamper, penanggung jawab II Lukman Muhajir, SH, sementara Pembina dipegang AKP Kalimi, serta dari Astra Honda Suko Edy. Perangkat dibawahnya meliputi Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, dan Bendahara. Dilengkapi Team Warga Aman, Team Kendaraan Aman, Team Lingkungan Aman, dan Team Peraturan Aman. 
Lurah Pandean Lamper, Wiwara Mardikanti
Program Warga Aman
Untuk mewujudkan program warga aman diadakan penyuluhan dan ketrampilan safety riding. Di ranah bocah dan orang tua diadakan parenting dan edukasi. Edukasi anak usia dini dengan adanya taman lalu lintas di halaman PAUD Kartini area kelurahan. Kesadaran berlalu lintas langsung dipraktekkan. Anak-anak mengendarai otopet lengkap dengan jaket dan helm. Mereka membawa pin untuk dicocokkan pada rambu yang terpasang di tembok. 
Rambu-rambu di Taman Lalu Lintas (dok. pribadi)
Sementara orang tua duduk lesehan di balai kelurahan mendengarkan penjelasan tatanan lalu lintas sehat dengan narasumber Ibu Badriah Nurdin.
Warga pun diajarkan berkendara meliputi cara berkendara yang baik, peragaan dan pelatihan untuk pembuatan SIM C, serta kemahiran melintasi rintangan yang dibuat  di pelataran kelurahan. 

Program Kampung Aman
Yaitu dengan menciptakan kampung aman dan nyaman melalui pembuatan dan pemasangan plang etika berlalu lintas dan rambu kecepatan. Pemasangan rambu-rambu di 45 titik di seluruh wilayah kelurahan. Majalah dinding sebagai sarana menyampaikan informasi keselamatan kampung safety pun didirikan. 
Program Motor Aman
Tak hanya masyarakat yang diedukasi, namun motor pun mendapat jatah untuk dirawat. Melalui bengkel keliling, Astra memberikan service motor gratis dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Sembari menunggu servis motor, masyarakat bisa menambah khasanah pengetahuan di pos baca Kampung Safety Honda. Di dalamnya dapat ditemui buku bacaan, spanduk berisi rambu-rambu lalu lintas, dan LCD. Pengunjung bisa mampir untuk membaca atau melihat tayangan ringan tentang keselamatan berkendara. 
Pos Baca, Alat Peraga Rambu Lalin, dan Buku Bacaan (dok.pribadi)
Program Warga Peduli
Usai edukasi, diharapkan warga menularkan virus positif tentang keamanan berkendara melalui media sosial atau kampanye saat program car free day. Sehingga lebih banyak lagi masyarakat tahu dan terpapar virus budaya aman berkendara. 
Keseriusan masyarakat ikut andil dalam menciptakan kampung tertib lalu lintas pun disepakati dalam ikrar warga kampung safety Honda. 
Piagam MURI dan Ikrar Warga (dok.pribadi)
Program Bina Keselamatan
Diwujudkan dengan menciptakan kompetisi safety riding dan diharapkan warga belajar dan menjaga etika hingga muncul budaya baru, budaya aman berkendara. 

Sebagai bentuk apresiasi, kepolisian memberikan piagam penghargaan kepada Kelurahan Pandean Lamper dalam rangka Road Safety Partisipasi Pembentukan Kampung Tertib Lalu Lintas. Sementara apresiasi lain juga datang dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) yang menganugerahkan Kelurahan Pandean Lamper Semarang sebagai Kampung yang Membudidayakan Keamanan dan Keselamatan dalam Berkendara (Kampung Safety Riding) Pertama di Indonesia. 
Muhajir selaku penanggung jawab II dalam struktur organisasi Kampung Safety Riding Mandiri menegaskan, budaya keselamatan berkendara tumbuh dari bawah, melibatkan kedisiplinan masyarakat dan melebar pada lingkungan sekitar sehingga menjadi pelopor ketertiban dan keselamatan berlalu lintas. Hasilnya? Angka kecelakaan menurun, kesadaran akan keselamatan berlalu lintas meningkat. 

Siang menjelang, Pak Muhajir berangkat menunaikan sholat Jumat. Saya pun bergegas pamit, meninggalkan balai kelurahan. Tepat di depan saya berdiri saya menyaksikan seorang pengendara melambatkan laju motor saat mendekati zebra cross, seorang ibu menepikan motornya dan memilih berhenti untuk menerima telepon, sementara lalu lalang kendaraan tak melebihi batas yang ditentukan. Masyarakat sadar akan keselamatan diri sendiri, karena itulah yang menjadi inti perubahan.

Dari kampung ini saya belajar tentang semangat perubahan. Bermula dari gagasan sederhana, melahirkan sebuah perubahan yang luar biasa kini dan di masa selanjutnya.

Senin, 17 Desember 2018

Belajar Menerjemahkan Buku Anak pada Lokakarya Penerjemahan Buku Anak

Desember 17, 2018 1 Comments
Akhir November 2018 Pusat Studi Literasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bekerja sama dengan Litara dan Let’s Read Asia menggelar acara Membaca Dunia Anak: Lokakarya Penerjemahan Buku Anak. Kegiatan ini diikuti oleh 60 peserta yang dinyatakan lolos seleksi. Alhamdulillah, saya bisa menjadi salah satu peserta. 
Saat pertama kali membaca pengumuman, sebenarnya muncul keraguan ikut seleksi karena persyaratannya harus menyerahkan tiga naskah terjemahan dengan pilihan bahasa Inggris- Indonesia- Jawa. Saya memilih menerjemahkan tulisan berjudul: Granada dan Ulang Tahun Deden serta sebuah puisi Blitar. 
Eva Nukman
Kegiatan selama dua hari ini bertempat di Auditorium Gedung Rektorat Lantai 11 Unesa kampus Lidah Wetan.

Usai pembukaan, dilanjutkan penjelasan mengenal The Asia Foundation (TFA) dan Let’s Read oleh Aryasanti Sintadewi. Sementara Eva Nukman mengenalkan Litara sebuah lembaga yang peduli dengan bacaan anak, For Children and The Love of Reading.

Pada sesi penerjemahan buku anak, Eva Nukman yang juga sekaligus penerjemah profesional membedah hal-hal yang berkaitan dengan penerjemahan, buku anak, penerjemahan buku anak, dan pembahasan sampel.

Dari penjelasan beliau, ternyata buku anak dan penerjemahan buku anak bukan perkara sepele. Sebuah buku anak dikatakan baik jika isinya menyenangkan, mengandung amanat atau pesan secara halus dan tidak menggurui, memukau, merangsang daya pikir dan imajinasi serta memiliki elemen-elemen bacaan yang baik seperti visual, literer, dan kualitas informasi. Dalam menerjemahkan buku anak  perlu diingat bahwa: jangan meremehkan teks pendek di buku anak, serta jangan beranggapan bahwa melihat kamus adalah tabu.

Lantas mengapa perlu ada penerjemahan buku anak?

Alasannya adalah biaya produksi lebih murah, ilustrasi buku asing lebih menarik dan lebih bagus, buku asing lebih meyakinkan daripada buku lokal, belum ada buku sejenis di Indonesia, dan mengikuti tren.

Untuk menjadi penerjemah literatur anak perlu diingat bahwa buku anak bukan perkara main-main, think twice it’s children book. Maka perlu tahu cara dan syaratnya mengingat tidak ada cara mudah menjadi penerjemah.
Cara dan syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah pengetahuan dan ketrampilan, profesionalisme, sarana/prasarana, yang tak kalah penting adalah membangun jejaring atau networking.
Suasana workshop penerjemahan buku anak
Usai membedah dunia penerjemahan buku anak, giliran peserta mendapat tugas menerjemahkan cerita yang ada di Let’s Read Asia. Saya berada di grup 5 dengan arahan mentor Dina Begum, seorang penerjemah profesional.

Semula saya beranggapan, menerjemahkan hanya sekedar menyulih kata. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Sekali lagi, ini buku anak. Sementara bahasa Jawa yang digunakan pun harus dipahami anak. Berkali-kali saya harus mengingatkan diri sendiri: Ini buku anak, lo! Anak-anak yang akan membaca, bukan orang tua!
Pantas saja jika Romo Mangun Wijaya bahkan menegaskan: Dalam ranah tulis menulis, paling sulit adalah menulis cerita anak dan yang paling mudah adalah menulis skripsi.

Tiap peserta mendapat cerita yang berbeda dengan level yang berbeda pula untuk diterjemahkan dalam bahasa Jawa. Saya mendapat teks tentang seorang anak yang mendengar suara aneh di tengah malam, serta seorang anak lelaki yang mendapati semua benda-benda di sekitarnya berubah saat bangun tidur. Menarik!
Kelompok 5 Mentor Dina Begum
Di hari kedua, usai mendapat penjelasan dari Ahnan Alex, ketua Perhimpunan Penerjemah Indonesia Cabang Jawa Timur, sesi penerjemahan dilanjutkan kembali. Sebagian peserta menyunting hasil terjemahan, sebagian lagi menambah bahan bacaan untuk diterjemahkan. Seru! Ada rasa penasaran sekaligus prihatin karena ternyata bahasa Jawa menjadi bahasa yang kian asing.

Semoga pada kesempatan mendatang lebih banyak lagi buku-buku yang bisa diterjemahkan dalam bahasa daerah dan terbukanya kesempatan untuk menikmati bacaan anak. 

Kamis, 29 November 2018

Menikmati Inspirasi dalam Seporsi Ayam Rekoso

November 29, 2018 2 Comments
Ke Surabaya naik kereta 
Singgah sebentar ke Lamongan 
Ku sapa engkau saudara 
Meski hanya lewat tulisan 
Itu pantun bukan sekedar pantun basa basi, karena pada dasarnya saya memang mampir ke Lamongan sebelum ke Surabaya. 
Mumpung singgah sesaat di kota Lamongan, afdholnya menyantap kulinernya. Maksud hati ingin menikmati soto Lamongan yang terkenal enak, apa daya saya malah diajak makan ke kedai kekinian Ayam Rekoso di Jl. Kombespol M Duriyat Lamongan. 

Saat pertama membaca namanya, saya malah mikir kok dinamakan Ayam Rekoso, sih? Bukankah nama adalah doa? Ternyata saya malah mendengar cerita yang mengasikkan dibalik nama Ayam Rekoso. 
Sekilas nampak bahwa kedai ini membidik pangsa anak muda. Hal ini bisa dilihat dari warna-warna cerah dan berani, tulisan-tulisan inspiratif, menu yang akrab di lidah anak muda jaman now serta yang terpenting adalah free wifi. Meski membidik kaum muda, bukan berarti orang tua tidak bisa menikmati kuliner kekinian. Siapa saja bisa ikut mencicip menu yang ditawarkan. 

Sambil menunggu pesanan, saya menyapu sudut ruangan. Tulisan di dinding sebelah kiri meja kasir menarik perhatian: Diskon 10% bagi yang sedang berbuka puasa Senin – Kamis. Sementara tulisan lain berbunyi berbunyi : Anak Yatim Piatu silahkan makan gratis di sini. Konsep berbagi sepertinya menjadi nilai tambah bagi sang pemilik kedai. Di sisi kanan meja tertulis : Utamakan Sholat 5 waktu, dan kepuasan Pelanggan. Saya menyimpulkan bahwa sesibuk apapun urusan kita, jika undangan menuju kemenangan telah dikumandangkan maka waktunya untuk bersujud. 
Di dinding lain terpampang tulisan dalam bahasa Jawa : Sopo Wani Rekoso Bakal Nggayuh Mulyo, yang saya terjemahkan siapa yang berani/ mau bekerja keras akan meraih kehidupan mulia. Dari tulisan ini saya mulai mengerti bahwa kedai ini mengingatkan konsumennya bahwa bekerja keras akan menghasilkan kehidupan yang baik dan berkah. 

Tulisan di dinding seberang pun tertulis dalam bahasa Jawa tak kalah menarik: Witing Tresna Jalaran Saka Kulina, Witing Mulyo Jalaran Saka Rekoso. Kalimat ini saya artikan cinta tumbuh karena terbiasa. Sementara kalimat dibawahnya artinya sekilas sama dengan kalimat di seberang, hidup mulia bisa diraih karena usaha/ kerja keras. Saya pun mulai mengambil kesimpulan bahwa kedai ini pun adalah salah satu ikhtiar atau usaha giat dari sang pemilik untuk meraih kehidupan yang lebih baik. 

Nek Lagi Rekoso, ojo ngersula. Lakonono lan Dungo’o wae seng Luwih Becik, Jika hidupmu sedang susah payah, jangan mengeluh, jalani saja sambil berdoa untuk kehidupan yang lebih baik. 
Duh membaca kalimat ini saya menjadi paham bahwa kehidupan akan makin bertambah berat jika kita banyak mengeluh. Andai pun kita mengeluh, berkeluh kesahlah pada Allah dengan berdoa. InsyaAllah akan meringankan dan mendapat jalan keluar yang baik. Sungguh inspiratif. Sejalan dengan apa yang telah difirmankan dalam Al Quran : Sungguh beserta kesusahan ada kemudahan, sungguh beserta kesusahan ada kemudahan. 

Tulisan paling besar terpampang di depan meja saya. Seluruhnya ditulis dalam bahasa Jawa. Jika konsumen mengerti kata-kata yang ditata membentuk tanda cinta, maka akan lebih mudah memahaminya. 
Sambil berusaha menyelami kata-kata itu, akhirnya pesanan datang. Saya menikmati sajian ayam geprek dan ayam bakar. Rasanya enak, dan porsi mengenyangkan. Dan yang penting seperti salah satu jargonnya : selera bos harga anak kos. Harga terjangkau tapi tidak mengkhianati rasa. 
Karena nyaris semua tulisan di dinding menggunakan bahasa Jawa, maka harga menu yang ditawarkan pun berbahasa Jawa. Ayam bakar madu : 16 ewu, ayam geprek sambal bawang 10 ewu. Unik! 

Dari cerita seorang kenalan ternyata si empunya memang menempuh jalan terjal dan berliku yang disertai usaha keras hingga meraih sukses dengan membuka 3 kedai Ayam Rekoso. Nama Rekoso pun ternyata berasal dari kata Re-kembali, Koso- Yang Kuasa. Kembalikan semua kepada Yang Kuasa. Wah! 
Gagal menikmati soto Lamongan tak jadi soal, sebagai gantinya saya bisa menikmati inspirasi dalam seporsi Ayam Rekoso.

Senin, 23 Juli 2018

Launching Kawasan Agribisnis Pertanian Perkotaan

Juli 23, 2018 3 Comments
Aktivitas ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Purwosari seminggu ini berbeda dengan hari-hari biasa. Jika acara rutin mereka adalah pemeliharaan dengan menyiram, pemupukan, pembibitan dan menyiangi gulma serta sesekali penyuluhan, maka seminggu ini rutinitas menjadi padat. Mulai dari bersih-bersih, menata tanaman, membuat media pembibitan, memercantik area tanam serta menata area pameran dan penjualan hasil pertanian. Ada apa ya? 
Ulala…ternyata Senin, 23 Juli 2018 Kelurahan Purwosari Kecamatan Semarang Utara tepatnya KWT Purwosari yang berpusat di Patriot RT 02/06 ketiban sampur menjadi tuan rumah Launching Kawasan Agribisnis Pertanian Perkotaan, dengan mengangkat tema Pengembangan Kawasan Agribisnis Pertanian Perkotaan Guna Memperkuat Ekonomi Kerakyatan Berbasis Keunggulan Lokal di Kota Semarang. 
Launching Agribisnis Kawasan Pertanian Perkotaan
Acara ini digelar Dinas Pertanian Kota Semarang dan dihadiri oleh Pengurus Tim Penggerak PKK se-Kota Semarang, Camat Semarang Utara, Lurah se Kecamatan Semarang Utara, Kelompok Tani dan Kelompok Wanita Tani Pertanian Perkotaan se Kota Semarang serta tamu undangan. 
Dalam sambutannya, Walikota Semarang yang diwakili oleh Ibu Ayu Entis menyatakan bahwa dalam melaksanakan program pembangunan lima tahun (2016-2021) Pemerintah Kota Semarang memiliki 4 misi. Utamanya misi ke 4 yaitu memperkuat ekonomi kerakyatan berbasis keunggulan lokal dan membangun iklim usaha yang kondusif. Terkait dengan hal tersebut KWT Purwosari dipandang memiliki komitmen untuk mewujudkan penguatan dan peningkatan perekonomian melalui pengembangan kawasan agribisnis pertanian perkotaan atau Urban Farming. 
Model Pertanian Perkotaan
Usaha ini memang patut diacungi jempol mengingat luas lahan pertanian di Kota Semarang sangat terbatas. Namun hal ini bukan menjadi kendala untuk memaksimalkan lahan sempit menjadi area usaha tani hortikultura dan komoditas pertanian lainnya. Hasilnya? Luar biasa. Khusus KWT Purwosari yang terbilang masih kinyis-kinyis alias baru, berhasil menyabet juara 3 lomba Pertanian Perkotaan se Kota Semarang. Dan untuk lebih mengenalkan kiprah KWT Purwosari pada masyarakat, maka dalam rangka launching agribisnis pertanian perkotaan, para pengurus dan penggiat Kelompok Wanita Tani Kelurahan Purwosari juga diundang untuk berdialog di salah satu stasiun televisi swasta Semarang, TVKu. 
Manfaat yang bisa diperoleh dari agribisnis perkotaan atau urban farming ini antara lain dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, mampu mendukung penyediaan alternatif pangan organik yang berkualitas serta memberikan nilai estetika pada lingkungan. Hal ini pula yang mendukung mengapa agribisnis pertanian perkotaan di kelurahan Purwosari bisa menjadi percontohan untuk bisa ditiru dan diaplikasikan oleh seluruh kelurahan di Kota Semarang. 
Pemotongan Untaian Melati oleh Ibu Tia Hendrar Prihadi
Usai peresmian Pengembangan Kawasan Agribisnis Pertanian Perkotaan yang ditandai dengan pemotongan untaian bunga melati oleh Ibu Tia Hendrar Prihadi, dilanjutkan dengan peninjauan beberapa area pameran seperti area percontohan pembenihan, pembibitan, dan pemasaran hasil. Selain itu juga disediakan klinik konsultasi agribisnis pertanian perkotaan KWT Purwosari. 
Tamu undangan bisa melihat dan menanyakan langsung tentang proses pembenihan, pembibitan serta model pertanian perkotaan yang dikembangkan seperti vertikultur, hidroponik dan aquaponik. Sampai di area pemasaran, rasanya tak kuasa untuk tidak membeli produk pertanian organik yang dipamerkan, seperti lady finger (okra), tomat, bawang merah, cabai, teh naga dan aneka hasil pertanian lainnya dengan harga terjangkau. 

Beberapa tamu juga membeli beberapa tanaman seperti jambu, selada, seledri, dan lainnya untuk ditanam sendiri di rumah atau digunakan sebagai percontohan. 
Meski acara telah usai menjelang tengah hari, namun ibu-ibu dan beberapa tamu undangan masih nampak penasaran dan hilir mudik untuk memborong bibit tanaman yang unyu-unyu yang ditanam di polybag mungil. 
Penggiat KWT Purwosari
 Semoga semangat KWT Purwosari menular juga ya pada KWT lainnya serta masyarakat pada umumnya. Semangat ya Ibu-Ibu hebat!