Rabu, 06 Maret 2019

Paket Lengkap : Gandjel Rel, Gus Mul, Pringsewu

Maret 06, 2019 0 Comments
Ulang tahun Gandjel Rel tahun ini menyediakan menu lengkap dan tentu saja mengenyangkan. Ibarat kata, berimbang antara santapan jasmani dan ruhani. Santapan jasmani tentu urusan perut karena aneka jajan dan santap siang yang sukses menerbitkan liur. Santapan rohaninya semangkuk ilmu dari GusMul, plus hati senang bertemu GRes, plus kesempatan cekrek-cekrek di restoran Pringsewu dan pulang membawa hadiah.

Tanggal 22 Februari 2019, komunitas narablog wanita Kota Semarang, Gandjel Rel memasuki usia menggemaskan, 4 tahun. Ritual perayaan dimulai di minggu-minggu sebelumnya dengan menggelar blog challenge dan video challenge #roadto4thGandjelRel. Sementara puncak perayaan diadakan hari Sabtu, 23 Februari 2019 di restoran Pringsewu kawasan Kota Lama Semarang. 

Bukan rahasia lagi jika sepak terjang GRes (member Gandjel Rel) dalam kurun perjalanan 4 tahun makin gemilang. Beberapa lomba berhasil memunculkan nama GRes sebagai jawara. Sementara di lingkup intern, berbagai ilmu dan resep menulis disebar dan bisa dituai anggota GRes lainnya. Intinya, saling berbagi, saling mengisi. 
Gus Mul dan GRes (foto: Nyi Penengah Dewanti)
Pucuk dicinta ulam tiba. Urusan berbagi ilmu diwujudkan lagi oleh founder Gandjel Rel dengan memboyong Agus Mulyadi redaktur mojok.co. Gus Mul, begitu panggilan akrabnya, berbagi resep tentang Menulis Kreatif di Media Online. Tulisan Gus Mul memang bisa dibaca di agusmulyadi.web.id serta agusmulyadi.com. Tapi meneguk ilmu langsung dari penulis buku Jomblo Hapal Pancasila jadi semakin maknyus. 
Agus Mulyadi
Usai bercerita tentang awal mula sepak terjang sampai menjadi seterkenal sekarang ini, Gus Mul berbagi resep menulis yaitu Menulis Sekitarmu Sebisamu. Bumbunya terdiri dari : Ide tulisan, kegelisahan, pilihan kata atau diksi, ke-khas-an, sudut pandang, dan kutipan. Nah, jika bumbu ini dimasak dengan kemampuan yang selalu terasah, maka sajian tulisan nikmat untuk dibaca. Semuanya butuh waktu dan berproses. 

Di tengah-tengah menikmati racikan resep Gus Mul, bisa-bisanya pikiran dan mata pecah kongsi gara-gara membaca tulisan di kaos yang dikenakannya. Apik. Cara ciamik untuk mengenalkan diri. Begini bunyinya : speak English, drive American, kiss French, party Caribbean, dress Italian, spend Arabic, agus Magelangan

Nah, mumpung acara diadakan di restoran Pringsewu, tak boleh melewatkan ritual cekrek-cekrek.  Pasalnya seluruh sudut restoran yang terletak di Jl. Suari Nomor 10-12 kawasan Kota Lama Semarang sangat fotogenik. 

Bangunan berlantai dua ini adalah gedung bekas kantor raja gula terkenal Oei Tiong Ham. Tiap sudut ruang adalah cerita tentang kejayaan masa itu. Oleh salah seorang pegawai, saya diantar ke ruang brankas Oei Tiong Ham. Di ruangan ini bisa dijumpai brankas besi yang kokoh, meski tak bisa difungsikan. Ruangan lain juga menyajikan narasi yang apik. Masuki saja Jail Break, jika kepingin merasakan sensasi makan di balik jeruji. Nikmati juga sensasi Lorong Waktu, menapaki tangga kayu yang kokoh, atau merasakan semilir angin melalui jendela-jendela kayu besar yang menjadi ciri khas bangunan kuno.
Brankas Oei Tiong Ham

Jail Break

Ruangan-ruangan di restoran ini dinamai dengan nama kawasan di Semarang. Seperti Tawang Room- tempat perayaan ulang tahun Gandjel Rel- yang bersebelahan dengan Poncol Room. Ada juga ruang yang dinamai Bubakan Room. 

Tak hanya difungsikan sebagai tempat makan, Pringsewu juga nyaman digunakan sebagai ruang rapat atau pertemuan. Mushola dan taoilet yang bersih serta toilet khusus bagi kaum difabel juga disediakan. Jika kepingin pulang membawa buah tangan, Pringsewu menyediakan souvenir serta oleh-oleh khas Semarang. 

Restoran Pringsewu Kota Lama adalah cabang ke 21 dan dibuka resmi pada 12 Mei 2018. Selain menyediakan menu pesmol gurame, udang saus padang, dan olahan lainnya, kini Pringsewu juga punya layanan baru yaitu Teraz Oei Tiong Ham. Sesuai dengan namanya, Teraz Oei Tiong Ham menempati beranda dengan sajian Roti Ayam, Roti Keju, Banana Roll, Tahu Walik, dan Avocado Thai. 
Teras Oei Tiong Ham Pringsewu
Tak terbayang lezatnya menikmati kudapan, ditingkahi semburat surya jelang senja di Teras Oei Tiong Ham Pringsewu tentu saja sembari menyesap kenangan. Aih….

Rabu, 20 Februari 2019

Tim Resik Resik Masjid Semarang

Februari 20, 2019 6 Comments
Assalaamu’alaikum, 

Jumat Berkah! 

Hari Jumat adalah jadwal saya mengganti mukena masjid kampung. Tapi Jumat ini beda dari biasanya. Baru saja memasuki gerbang masjid, langkah saya terhenti melihat mobil-mobil berjajar padahal waktu sholat Jumat masih beberapa jam lagi. Tak cukup di situ, deru suara mesin pemotong rumput, mesin cuci, peyedot debu dan langkah kaki penuh semangat mewarnai pagi menjelang siang. 

Saat masuk masjid saya melongo, karena beberapa pemuda menggulung karpet, sebagian lagi menyapu, mengepel, membersihkan lampu utama yang berdebu tebal, dan mengelap kipas angin. Keterjutan bertambah saat melihat lemari tempat mukena kosong. Waduh, dimana engkau mukena? Seperti biasanya, saya membawa mukena bersih untuk ditukar dengan mukena yang kotor. 
Lagi celingak-celinguk mencari mukena yang lenyap dari tempatnya, seorang pemuda mendatangi dan menanyakan keperluan saya. Setelah saya jelaskan, pemuda berkaos hitam pun dengan santun berujar, “Maaf, Bu. Pahala Ibu kami minta. Hari ini mukena dan sajadah masjid, kami yang mencuci.” Dalam hati saya berteriak, “Horeeeee!!!” "Alhamdulillah"

Dari pada penasaran saya akhirnya mengintip kesibukan lain di luar ruang utama dan mendapati beberapa pemuda sedang mencuci pembatas shaf, menjemur mukena dan sajadah, menyikat lantai kamar mandi dan tempat wudhu. Bau wangi menguar. 


Rasa penasaran saya mulai terjawab saat saya membaca kaos yang digunakan semua pemuda : Tim Resik-Resik Masjid. Saya pun menjumpai Bang Oni, sekretaris dari TRRM dan mendapat penjelasan tentang kegiatan Tim Resik-Resik Masjid. 

Resik-Resik Masjid adalah gerakan murni sosial spiritual yang terbentuk pada November 2017. Sebagai gerakan sosial maka kegiatan yang dilaksanakan tidak berorientasi pada laba alias gratis 100% selain itu gerakan ini bersifat independen, non politik, non aliran, non sales produk, lintas ormas dan lintas sosial ekonomi. 

Kegiatan mulia ini tercetus saat muncul keinginan dari masing-masing anggota untuk menjalani praktek non ribawi. Semangat hijrah pun akhirnya mewujud dengan mulai menggeluti usaha yang halal tanpa tersentuh praktek riba, lalu merambah kegiatan sosial lain yakni resik-resik masjid yang diadakan tiap Jumat dan Ahad di seputar Semarang. 

Tak sekedar membersihkan masjid, ternyata Jumat itu TRRM juga ikut berbagi. Usai sholat Jumat, jamaah disilakan untuk mengambil nasi bungkus dan air mineral serta beras. Sementara di hari Ahad dilanjutkan dengan penyerahan mushaf Al Quran dan pemberian santunan untuk saudara-saudara penyandang tuna netra. Seluruh kegiatan berasal dari iuran anggota tim resik-resik dan dari donatur. Donasi berwujud uang atau pun barang yang selanjutnya dikelola untuk operasional pembersihan masjid serta sedekah Jumat. 
(dok. TRRM Semarang)
Layaknya organisasi, TRRM dilengkapi dengan kepengurusan yang lengkap. Ketua, Sekertaris, dan Bendahara serta dibantu oleh beberapa seksi yaitu humas, konsumsi, dokumentasi, peralatan dan bahan, bidang keanggotaan, tim survey, bidang sedekah Jumat yang meliputi nasi bungkus dan beras, seksi penggantian mushaf, seksi bansos (pengobatan gratis), dan bidang da’wah. Masing-masing seksi bertanggung jawab atas amanah yang dipikulnya. 
Namun untuk urusan resik-resik masjid, semua anggota bergerak bahu membahu membersihkan rumah Allah. 

(dok.TRRM Semarang)
Jumat siang itu ruang utama masjid telah rapi dan wangi. Kamar mandi dan tempat wudhu pun telah bersih, harum. Deru suara mesin pemotong rumput, penyedot debu dan mesin cuci berhenti, berganti dengan alunan kalam Ilahi. 
Halaman masjid mulai ramai. Satu dua jamaah mulai berdatangan. Tim resik-resik merapikan seluruh peralatan kebersihan dan sebagian lainnya menyiapkan sedekah beras dan nasi bungkus yang akan dibagi usai sholat nanti. Kegiatan membersihkan masjid purna, panggilan kemenangan pun segera dikumandangkan muadzin. 

Semoga TRRM istiqomah dan kegiatan yang dilakukan dicatat sebagai amal jariyah dan menjadi pemberat timbangan kebaikan di yaumul hisab. 

Pengen masjid di kampungmu menjadi bersih, rapi dan wangi? InsyaAllah Tim Resik-resik Masjid siap mewujudkannya, hubungi Sekretariat Tim RRM Semarang, Jl. Zebra Dalam RT 02/ RW 05 No 22 Pedurungan Kidul Semarang

Wassalamu'alaikum.


Sabtu, 02 Februari 2019

Suka Parisuka Ngeblog Bareng Gandjel Rel

Februari 02, 2019 11 Comments
Nuwun, 

Sawijing kanca nate omong, menawa deweke meri karo aku. Kang diireni perkara sepele, yaiku amarga aku bisa nulis. Sanajan durung akeh tulisanku, nembe siji loro crita cekak kang daktulis. Jarene, tulisan iku bakal diwaca lan bisa terus diwaca sanajan pawongane wis tilar donya. Babagan kasebut njalari tuwuhe pemikiran, yen ngono nulis kuwi ora mung asal-asalan. Nulis iku kudu laras lan manfaat.

Jaman milenial iki, babagan apa bae bisa diwaca utawa diunduh saka jagad maya. Media online luwih narik kawigaten para milenial kang ora bisa adoh saka gawai. Mula saiki akeh kang pada pindah media. Saka nulis ing ariwarti utawa kalawarti, pindah menyang media online. Kayata nulis ing blog, utawa dadi bloger. 

Blog minangka pilihan media kanggo paring informasi lan bisa dadi ruang ekspresi. Para bloger bisa nulis “curhat” apadene rekomendasi babagan apa bae. Kayata papan wisata, kuliner, macak, lan liya-liyane. 

Wiwitane ajar nulis ing blog, pranyata ora gampang, amarga kudu bisa metani utawa koreksi tulisane dewe. Bab tanda baca, tembung lan ukarane wis gathuk opo durung, ojo lali panulisane kudu runut supaya kepenak diwaca. Kang ora bisa disepelekake, gambar utawa foto uga gathuk karo babagan kang ditulis. Ora tumon to yen nulis bab kuliner utawa panganan, nanging fotone sandal. 

Saliyane iku nulis ing blog becike jujur lan adil. Yen seneng ora perlu ngunggul-ngunggulake nganti sundul langit, ngepasi ora seneng olehe maido nganti entek amek kurang golek. Menawa panulisane jujur, luwih kepenak anggone nulis lan anggone maca.

Babagan kang wigati liyane yaiku bab copas utawa nyonto. Sadurunge, aku kerep maca blog kang isine pada plek ora ana bedane. Ora mung siji, nanging akeh blog kang isine pada. Menawa mrangguli blog kaya mengkono tuwuh pitakonan jan-jane sapa kang nulis sepisanan lan banjur diturun utawa dicopas dening liyane?

Amarga isih akeh pitakonan bab panulisan blog lan sapiturute, mula aku melu kumpulan blog wanita ing Semarang, yaiku Gandjel Rel. Kumpulan bloger wanita iki minangka wadah kanggo para bloger wanita ing kutha Lumpia. Maneka warna acara kerep digelar kanggo nambahi semangat para GRes utawa anggota Gandjel Rel kayadene latihan gawe blog kanggo bloger anyaran, pelatihan SEO, ngregengake saperangan adicara saperangan produk, melu ngregengake adicara pamarentah kayadene gerakan masyarakat sehat lan sapanunggalane. 

Akeh manfaat kang bisa dipetik yaiku tambah ilmu, tambah kanca, tambah info-info bab lomba nulis, lan yen kapinujon beja bisa tambah hadiah nalika blog kang ditulis menang ing sayembara. 

Wondene ing intern GRes uga diadani arisan blog sawetara wektu kepungkur. Sapa kang narik arisan, kang nemtoake tema kang ditulis dening GRes liyane. 

Pinuju taun iki, ing ulang tahun kaping 4, diadani blog challenge yaiku tantangan nulis blog kanggo mahargya ulang taun utawa tanggap warsa Gandjel Rel kaping 4. Cacahe ana 4 tema kang wigati yaiku bab Kutha Semarang (apa bae), Lingkungan hidup (wujude crita cekak/fiksi), perlindungan anak, lan kang pungkasan bab ngeblog sesambungane karo Gandjel Rel. 

Ing tembe mburi, aku duwe pepinginan bisa ajeg nulis, panulisane uga tambah tatas titis tetes lan bernas, sokur-sokur bisa antuk bebungah utawa hadiah. Lan kang baku, tulisane bisa paring inspirasi kanggo sapa bae. Lumantar kumpulan bloger wanita Gandjel Rel, muga-muga apa kang dadi pepinginanku bisa kasembadan. 

Sugeng Tanggap Warsa Gandjel Rel ingkang kaping 4.

Wajik klethik gula jawa, luwih becik wong prasaja 
Roning mlinjo, sampun cekap nyuwun ngaso 

Nuwun.

(Tulisan ini untuk menyemarakkan Parade 4th GandjelRel - #BlogChallengeGandjelRel Pekan ke 4)
#roadto4thgandjelrel
#blogchallengegandjelrel

Minggu, 20 Januari 2019

Satu Jam Bareng Haji Boim Lebon

Januari 20, 2019 2 Comments
Ini adalah kali kedua saya bertemu Bang Boim atau Boim Lebon atau Haji Boim. Selanjutnya saya menyebut beliau dengan Haji Boim, biar berkah ketularan bisa menunaikan haji. Amin.
Pertemuan pertama terjadi 25 Mei 2013 saat Haji Boim berbagi ilmu di komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis Semarang. Pertemuan di siang yang panas menjadi segar dengan humor-humor Haji Boim. 
Nah, pertemuan kedua pada Ahad 20 Januari 2019. Bertempat di salah satu teras gedung di area Taman Budaya Raden Saleh Semarang, Forum Lingkar Pena Semarang menghadirkan Haji Boim yang didapuk menjadi pembicara pada pertemuan rutin dwi mingguan. Kali ini Haji Boim tidak datang sendirian. Mbak Ade Patalianawati, istri tercinta ikut mendampingi. Tak perlu berlama-lama, Haji Boim langsung bercerita awal keterlibatan beliau di Forum Lingkar Pena disambung cerita saat terjun ke dunia tulis menulis. 
Kelas Menulis FLP feat Boim Lebon
Haji Boim mengawali dunia literasi saat duduk di bangku sekolah. Umumnya anak muda, Haji Boim pun ingin “dipandang” dan dikenal orang lain. Setelah mencoba beberapa kegiatan, akhirnya Haji Boim mengikuti ekskul drama kelas menulis. Beberapa kali naskah drama yang ditulisnya menjadi juara. Beliau merasa telah menemukan dunianya, yaitu menulis. “Saya suka dan saya bisa,” jelas Haji Boim. 

Saat bertemu Hilman “Lupus” Hariwijaya, pemilik nama asli Sudiyanto pun berganti nama. Konon saat itu penampilannya ‘tengil’ dan cocok banget dengan sosok ciptaan Hilman, Boim. Sementara nama Lebon diambil dari salah satu personel band Duran Duran, Simon Lebon. Di serial Lupus, Boim Lebon dikenal sebagai play boy cap duren tiga. Nama duren tiga ini diambil dari gambar korek api jaman itu, tahu kan? Tak cukup di situ, Hilman Lupus akhirnya mengajak Haji Boim membuat buku Lupus kecil yang juga booming

Penulis puluhan buku ini pernah bergabung di Penulis Gramedia, menjadi script writer di beberapa stasiun televisi swasta, dan saat ini berkantor di RCTI sebagai produser dan head of creative. 

Bukan Haji Boim jika tak membuat kami tertawa dengan candanya. Di sela-sela sharing ilmu, Haji Boim menyelipkan humor segar. Kali ini tentang wudhu. Sebelum sholat, Haji Boim berwudhu. Wudhu yang pertama disusul dengan wudhu kedua. Buat cadangan katanya. Lo kok? Iya dong, kalau nanti saya kentut tak perlu wudhu lagi. Masih punya wudhu cadangan. Haha….ada-ada saja nih Haji Boim. 

Usai menerangkan karier menulisnya, sesi tanya jawab pun dibanjiri pertanyaan dari peserta pertemuan. Dari pertanyaan tentang nama Boim yang hoki banget, cara mempertahankan nuansa jiwa muda dalam bukunya, tentang penulisan buku anak, malah salah satu peserta menanyakan mengapa buku dan namanya tak juga terkenal. 
(dok : FLP Semarang)
Pada intinya menulis adalah sebuah proses yang harus dijalani sampai menemukan “dunia yang saya bisa dan saya suka”. Karena menulis itu butuh proses, maka perlu ketekunan dan berusaha menikmati setiap proses. Sedangkan ide bisa didapat dari hasil ngobrol serta silaturahmi yang selalu dilakukan oleh Haji Boim di setiap kunjungannya ke FLP daerah. Tulisan-tulisan segar dan enak dinikmati kawula muda adalah buah dari silaturahmi dan bermitra dengan anak muda yang menjadi sahabat Haji Boim. 

Satu jam rasanya tak cukup untuk memetik ilmu dari pria hitam manis kelahiran 17 Juli. Sayang, waktu tak memungkinkan. Usai berfoto dan tanda tangan buku, Haji Boim dan istri harus pamit. 
Jika dulu Boim dikenal sebagai play boy cap duren tiga, kini Haji Boim adalah seorang Pray Boy. Begitu kan, Haji Boim?

Rabu, 16 Januari 2019

S e t i p

Januari 16, 2019 8 Comments
Selesai. Bu Enjel tersenyum puas.
Peta pikiran seukuran kertas karton selesai dibuat, lengkap dengan warna warni spidol agar lebih menarik. Pasti anak-anak akan antusias mendengarkan. Jika anak-anak antusias, proses belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan. 

“Siapa yang tahu plastik?” Bu guru Enjel memancing perhatian anak-anak agar mau mendengarkan pelajaran kepedulian lingkungan di jam pelajaran terakhir. 
Bak ikan mencium umpan, anak-anak terpancing pertanyaan Bu Enjel. 

“Saya tahu. Saya tahu. Saya tahu,” anak-anak bersahut-sahutan menjawab. Semua mengacung, semua tahu. 

“Siapa tahu benda-benda yang terbuat dari plastik?” Lagi-lagi anak-anak mengacung dan berteriak bak paduan suara, “tahuuuu!”

“Coba tuliskan contoh benda-benda yang terbuat dari plastik.” 

Anak-anak berebut maju. Tumben. Baru kali ini kelas menjadi hidup. Maka papan tulis putih di depan kelas penuh dengan tulisan. Ciduk plastik, ember plastik, sisir plastik, gembor plastik, kursi plastik, semua benda ditambah kata plastik di belakangnya. Semua jawaban betul. 

“Siapa yang belum maju?” tanya Bu Enjel. 

“Saya boleh maju dua kali?” tanya Setip, sang murid pendiam. 

Bu Enjel menyerahkan spidol kepada Setip. Tumben, biasanya murid satu ini kesukaran menerima pelajaran, tapi kali ini tidak. Ditulisnya : plastik wadah es teh dan sedotan plastik. 

“Cerdas kamu, Setip,” puji Bu Enjel. Rona wajah Setip mendadak ceria. 
Anak-anak kembali ke bangku masing-masing dan menunggu pertanyaan selanjutnya. 

Bu Enjel membuka peta pikiran yang semalam disiapkan, tentang makhluk plastik. Anak-anak membaca judul peta pikiran. Mereka membayangkan sesosok makhluk yang seluruh tubuhnya dari plastik. Makhluk plastik itu bertemu musuh, terjadi perkelahian, lalu makhluk plastik menang. 
Imajinasi mereka bubar ketika Bu Enjel justru menerangkan plastik sebagai penamaan polimer, molekul sintetis rantai panjang berulang. Plastik adalah bahan bersifat kuat, keras, dan tahan panas hingga bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan rumah tangga. Anak-anak bosan. 
Penjelasan ilmiah yang ditulis Bu Enjel mengutip dari koran ibu kota itu tak satu pun dimengerti anak-anak. Semakin bersemangat Bu Enjel menerangkan, suaranya tertelan riuh anak-anak yang bersenda gurau. Kecuali Setip yang tetap diam mendengarkan. 

“Jadi, plastik wadah es teh dan sedotan plastik tidak bisa hancur, Bu?” tanya Setip. 

"Plastik diperkirakan baru dapat terurai 500 sampai 1000 tahun,” jelas Bu Enjel. 

Bu Enjel segera mengeluarkan komputer jinjing dan menghubungkan ke proyektor. Anak-anak kembali tenang, lalu riuh bertanya tentang foto-foto yang ditampilkan di layar besar. 

“Ini akibat banyaknya sampah di laut, terutama plastik.” 

“Itu kuda laut membawa cotton bud?” tanya Jek. 

“Dia berpegangan pada cotton bud, agar tidak terbawa arus. Mungkin dia mengira cotton bud tersebut adalah tumbuhan air.” 

Penjelasan Bu Enjel diikuti suara o panjang dari anak-anak. 

“Nah, mulai sekarang jangan buang sampah sembarangan, apalagi ke sungai karena akan terbawa sampai ke laut. Jika ikut ibu belanja ke pasar, bawa tas kain dari rumah. Bawa tempat minum sendiri, tidak usah diwadahi plastik,” Bu Enjel menjelaskan sambil menujuk video sampah plastik mengambang di perairan. Foto paus dan kura-kura yang mati setelah menelan sampah plastik pun sangat menarik perhatian siswa-siswanya. Kelas hening.

“Teng! Teng! Teng!” Bel berbunyi, anak-anak bersiap untuk pulang.
 * 
sampah plastik
“Bu Enjel!” teriak Setip. Bu Enjel menoleh, dilihatnya Setip berlari pulang ke rumah tak jauh dari sekolah. 

“Berapa, Pak?” Bu Enjel membayar 3 plastik es degan lalu beralih membeli sebungkus buah-buahan dari pedagang gilo-gilo yang mangkal di depan sekolah. 

“Bu Enjel!” Setip menghampiri gurunya. 

“Ada apa, Setip?” 

Terengah-engah diserahkannya tumbler dan piring beling milik ibunya,“jangan diwadahi plastik, Bu. Pakai ini saja.”  

“Bukankah Ibu tadi menerangkan tentang bahaya makhluk plastik?” imbuhnya

Bu Enjel tertegun, mengangguk-angguk, mengangkat dua jempol. 
Setip membusungkan badan. Air mukanya tampak gembira. Dia baru saja menyelamatkan gurunya dari serangan makhluk plastik. Setip tersenyum, senyum penuh kemenangan. 
***


Senin, 07 Januari 2019

Dolan Menyusuri Kawasan Kali Semarang

Januari 07, 2019 8 Comments
Sekali tempo menyusuri kawasan sekitar Kali Semarang. Di kawasan ini masih bisa dijumpai bangunan-bangunan kuno yang sayang untuk dilewatkan. Umumnya bangunan tua, maka ada yang terawat dan masih bisa difungsikan, ada pula yang rusak, bersalin rupa menjadi bangunan modern,atau bahkan hanya menyisakan cerita. 
Menara Masjid Layur (Masjid Menara)
Hari masih pagi, tatkala saya mampir ke Masjid Layur atau Masjid Menara. Masjid tua di Kota Semarang ini berlokasi di Jalan Layur No 33. Sebutan Masjid Menara merujuk pada bangunan menara tinggi di area depan masjid. Masjid Layur masuk dalam Bangunan Cagar Budaya No 35 melalui keputusan Walikota Nomor 646/50/Tahun 1992 Tanggal 4 Februari 1992. 
Masjid Layur/ Masjid Menara
Bangunan masjid tidak terlalu luas. Tampak luar maupun bagian dalam masjid didominasi warna hijau. Bagian atas masjid tidak berbentuk kubah, namun tajuk tingkat tiga dengan puncak berbentuk limas segi empat. Ruang sholat sebagai ruang utama tidak terlalu besar. Empat pilar kokoh menopang atap masjid. Jendela-jendela besar menjadi ciri khas bangunan kuno sebagai ventilasi alami. Di luar ruangan utama, ditempatkan bangku-bangku kecil untuk kegiatan mengaji. Sampai saat ini Masjid Layur masih difungsikan sebagai tempat ibadah dan kegiatan lain. 
Ruangan Masjid
Jalan-jalan saya berlanjut ke bangunan di sebelahnya. Dilihat dari bangunannya, sepertinya tidak difungsikan lagi. Begitu pula dengan bangunan di depannya. Namun demikian sisa keelokan bangunan ini masih bisa dinikmati. Beberapa meter dari bangunan masjid, saya menemukan lagi bangunan lawas yang sepertinya masih difungsikan sebagai hunian. Rumah berlantai dua bercat kuning ini masih menampakkan kewibawaannya meski termakan usia. Kayu sebagai bahan utama bangunan masih nampak kokoh. 
Bangunan kuno di sekitar Masjid Layur
Sampai di ujung Jalan Layur, saya disuguhi bangunan kuno yang pesonanya masih mencuri perhatian. Sayangnya bangunan dua lantai yang masih difungsikan ini kurang terawat. Tanaman liar sedikit merusak pemandangan. 
Bangunan kuno di ujung Jalan Layur
Memasuki jalanan kampung di depan Jalan Layur saya mendapati bangunan kuno yang sedang dibongkar. Sayang rasanya jika bangunan-bangunan lawas ini harus berganti menjadi bangunan anyar. Mengingat kayu sebagai komponen utama masih kokoh dan tentu saja nampak unik dan antik. Pemugaran rumah yang saya temui di Kampung Baru ini mengingatkan pada bangunan lawas yang pernah saya abadikan beberapa waktu lalu. Bangunan berlantai dua ini harus takhluk oleh rob dan banjir yang dulu sering menyambangi kawasan ini. Lantai bawah terendam air sepanjang hari sehingga menyisakan lantai kedua sebagai hunian. Meski demikian, kayu-kayu peyangganya masih kuat. 
Rumah dalam tahap pembongkaran (kanan bawah);
Salah satu rumah kuno di Kampung Baru yang telah dibongkar (atas dan kiri bawah)
Usai menikmati bangunan kuno seputar Layur dan Kakap (di sini saya menjumpai bangunan NV Perusahaan Mesin dan Pengetjoran Logam Sadono) serta blusukan ke kampung-kampung, saya mampir ke penjual Jamu Jun. 
Jamu Jun merupakan minuman tradisonal khas Semarang. Jun adalah wadah air yang terbuat dari tanah. Jamu jun teksturnya sedikit kental hingga hampir menyerupai bubur. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuatnya terdiri campuran tepung ketan, gula jawa, gula pasir, kayu manis, jahe, merica, akar alang-alang, daun jeruk, santan dan rempah-rempah lain. Sebagai pelengkap ditambahkan enten-enten dari kelapa dan gula jawa, bubuk merica, serta tepung ketan sangrai. Rasanya manis legit. Efek ramuan bermacam rempah ini menghangatkan badan. 
Jamu Jun lengkap dengan bubuk merica, tepung ketan sangrai,dan enten-enten
Dahulu jamu jun dijajakan keliling kampung. Jun, canting khas berbahan bambu dan mangkuk kecil, sendok bebek atau terkadang sudu daun pisang diwadahi dunak, lalu digendong oleh sang penjual-wanita usia senja, berkain kebaya dan caping lebar. Sementara bahu menggendong, tangan kanannya menjinjing ember kecil berisi air untuk mencuci mangkok kotor. 
Jamu Jun
Ah, ternyata narasi tak cukup untuk menggambarkan sudut lain Kota Semarang. Bagaimana? Tertarik menyusuri kawasan sekitar Kali Semarang? Yuk, dolan ke Semarang!

Sabtu, 22 Desember 2018

Kala Aman dan Tertib Berkendara Menjadi Budaya Baru di Kampung Berseri Astra

Desember 22, 2018 10 Comments
Memasuki salah salah gerbang Kampung Safety Honda Kelurahan Pandean Lamper, saya didera rasa penasaran. Sekilas memang tidak ada yang berbeda dengan kampung-kampung lainnya. Namun saat berkeliling kampung, saya mendapati beberapa rambu peringatan layaknya di jalan raya. 
Rambu-rambu di 45 titik Kampung Safety Honda (dok.pribadi)
Di antaranya peringatan berkendara di kampung dengan kecepatan maksimal 20 km/jam, pengendara wajib punya SIM dan mampu mengemudi dengan baik, peringatan untuk konsentrasi berkendara tanpa telepon genggam, dan lainnya. 
Saya memutuskan untuk mendatangi kantor kelurahan. Persis di depan kantor kelurahan Gapura bertulis Selamat Datang Kampung Safety Honda Pandean Lamper Kampung Berseri Astra makin menegaskan bahwa tempat ini menjadi pelopor budaya aman berkendara. 
Gapura Kelurahan Pandean Lamper (dok. pribadi)
Rasa penasaran membawa saya menjumpai sang penggagas. 
Adalah Lukman Muhajir, SH., sosok dibalik Kampung Keselamatan Berkendara. Kecintaan pada lalu lintas dipupuk sejak aktif kegiatan ekstra kurikuler PKS (Patroli Keamanan Sekolah) di bangku sekolah. Resah mendera saat melihat angka kecelakaan di daerah sekitarnya meningkat. 
Usai mengikuti Seminar Safety Riding dan sosialisasi Undang-Undang Nomor 22/2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan di USM tahun 2010, maka Muhajir-begitu sapaan akrabnya- akhirnya mengawali gagasan untuk mengaplikasikan safety riding dalam dalam bentuk kampung. 
Gayung bersambut tatkala konsep laboratorium pembelajaran moral dengan mengedukasi masyarakat terkait tertib lalu lintas sejalan dengan Astra, menjalin kerjasama mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas, dan produktif. Kerjasama ini membuahkan sebuah Kampung Berseri Astra dengan tema Indonesia Ayo Aman Berlalu Lintas. 
Lukman Muhajir (dok. pribadi)
Muhajir yang berprofesi sebagai pengacara ini pun menjelaskan 5 Tahapan Program Aman Kampung Safety Honda yang meliputi : 1. Program warga aman 2. Program kampung aman 3. Program motor aman 4. Program warga peduli 5. Program bina keselamatan 
Struktur organisasi dibentuk. Sebagai penanggung jawab I Lurah Pandean Lamper, penanggung jawab II Lukman Muhajir, SH, sementara Pembina dipegang AKP Kalimi, serta dari Astra Honda Suko Edy. Perangkat dibawahnya meliputi Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, dan Bendahara. Dilengkapi Team Warga Aman, Team Kendaraan Aman, Team Lingkungan Aman, dan Team Peraturan Aman. 
Lurah Pandean Lamper, Wiwara Mardikanti
Program Warga Aman
Untuk mewujudkan program warga aman diadakan penyuluhan dan ketrampilan safety riding. Di ranah bocah dan orang tua diadakan parenting dan edukasi. Edukasi anak usia dini dengan adanya taman lalu lintas di halaman PAUD Kartini area kelurahan. Kesadaran berlalu lintas langsung dipraktekkan. Anak-anak mengendarai otopet lengkap dengan jaket dan helm. Mereka membawa pin untuk dicocokkan pada rambu yang terpasang di tembok. 
Rambu-rambu di Taman Lalu Lintas (dok. pribadi)
Sementara orang tua duduk lesehan di balai kelurahan mendengarkan penjelasan tatanan lalu lintas sehat dengan narasumber Ibu Badriah Nurdin.
Warga pun diajarkan berkendara meliputi cara berkendara yang baik, peragaan dan pelatihan untuk pembuatan SIM C, serta kemahiran melintasi rintangan yang dibuat  di pelataran kelurahan. 

Program Kampung Aman
Yaitu dengan menciptakan kampung aman dan nyaman melalui pembuatan dan pemasangan plang etika berlalu lintas dan rambu kecepatan. Pemasangan rambu-rambu di 45 titik di seluruh wilayah kelurahan. Majalah dinding sebagai sarana menyampaikan informasi keselamatan kampung safety pun didirikan. 
Program Motor Aman
Tak hanya masyarakat yang diedukasi, namun motor pun mendapat jatah untuk dirawat. Melalui bengkel keliling, Astra memberikan service motor gratis dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Sembari menunggu servis motor, masyarakat bisa menambah khasanah pengetahuan di pos baca Kampung Safety Honda. Di dalamnya dapat ditemui buku bacaan, spanduk berisi rambu-rambu lalu lintas, dan LCD. Pengunjung bisa mampir untuk membaca atau melihat tayangan ringan tentang keselamatan berkendara. 
Pos Baca, Alat Peraga Rambu Lalin, dan Buku Bacaan (dok.pribadi)
Program Warga Peduli
Usai edukasi, diharapkan warga menularkan virus positif tentang keamanan berkendara melalui media sosial atau kampanye saat program car free day. Sehingga lebih banyak lagi masyarakat tahu dan terpapar virus budaya aman berkendara. 
Keseriusan masyarakat ikut andil dalam menciptakan kampung tertib lalu lintas pun disepakati dalam ikrar warga kampung safety Honda. 
Piagam MURI dan Ikrar Warga (dok.pribadi)
Program Bina Keselamatan
Diwujudkan dengan menciptakan kompetisi safety riding dan diharapkan warga belajar dan menjaga etika hingga muncul budaya baru, budaya aman berkendara. 

Sebagai bentuk apresiasi, kepolisian memberikan piagam penghargaan kepada Kelurahan Pandean Lamper dalam rangka Road Safety Partisipasi Pembentukan Kampung Tertib Lalu Lintas. Sementara apresiasi lain juga datang dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) yang menganugerahkan Kelurahan Pandean Lamper Semarang sebagai Kampung yang Membudidayakan Keamanan dan Keselamatan dalam Berkendara (Kampung Safety Riding) Pertama di Indonesia. 
Muhajir selaku penanggung jawab II dalam struktur organisasi Kampung Safety Riding Mandiri menegaskan, budaya keselamatan berkendara tumbuh dari bawah, melibatkan kedisiplinan masyarakat dan melebar pada lingkungan sekitar sehingga menjadi pelopor ketertiban dan keselamatan berlalu lintas. Hasilnya? Angka kecelakaan menurun, kesadaran akan keselamatan berlalu lintas meningkat. 

Siang menjelang, Pak Muhajir berangkat menunaikan sholat Jumat. Saya pun bergegas pamit, meninggalkan balai kelurahan. Tepat di depan saya berdiri saya menyaksikan seorang pengendara melambatkan laju motor saat mendekati zebra cross, seorang ibu menepikan motornya dan memilih berhenti untuk menerima telepon, sementara lalu lalang kendaraan tak melebihi batas yang ditentukan. Masyarakat sadar akan keselamatan diri sendiri, karena itulah yang menjadi inti perubahan.

Dari kampung ini saya belajar tentang semangat perubahan. Bermula dari gagasan sederhana, melahirkan sebuah perubahan yang luar biasa kini dan di masa selanjutnya.